fiqh

Sunday, November 23, 2025

Suara Hati

Ketika kau ingin melakukan suatu hal, kemudian muncul rasa menentang dari dalam diri, ketahuilah bahwa apa yang akan kau lakukan saat itu bukanlah hal yang baik, karena bukan mulut yang berbicara, bukan pula mata dan telinga, tapi ia adalah hati.
Hati, yang tak pernah mau untuk memungkiri.
Ia katakan benar jika itu benar
Ia katakan salah jika itu salah
Ia katakan suka jika itu suka
Ia katakan benci jika itu benci
Dan ia katakan cinta jika itu cinta


*heart edition-end of august

Suara Hati


Ketika kau ingin melakukan suatu hal, kemudian muncul rasa menentang dari dalam diri, ketahuilah bahwa apa yang akan kau lakukan saat itu bukanlah hal yang baik, karena bukan mulut yang berbicara, bukan pula mata dan telinga, tapi ia adalah hati.

Hati, yang tak pernah mau untuk memungkiri.
Ia katakan benar jika itu benar
Ia katakan salah jika itu salah
Ia katakan suka jika itu suka
Ia katakan benci jika itu benci
Dan ia katakan cinta jika itu cinta


*heart edition-end of august
Sepertinya istilah “mengantre” sudah sangat akrab di telinga kita. terutama dareah Jakarta yang semuanya seakan tak afdhol kalau tak “antre”. Dimana-mana kita lihat tempat-tempat penuh dengan antrean manusia.
Mulai dari beli sayur di pedagang keliling sampai menunggu bayar di kasir mall.
Mulai dari antri bikin ktp di kelurahan sampai bikin rekening di bank.
Hal seperti itu sudah menjadi santapan lezat sehari-hari. Tapi hal yang kadang terlupakan adalah bahwa dalam “mengantre” itu terkandung pelajaran yang sangat berharga.
Kemarin saya mendapat inbox dari teman tentang pelajaran dibalik “mengantre” . Bermula dari kekecewaan saya ketika memasuki kantin kampus. Ya, kantin yang merupakan tujuan favorit mahasiswa kampus kami kala bel istirahat terdengar di seantero kelas. Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.
Oke kembali ke “antre” tadi.
Sampai didepan kantin, kulihat dari luar tampak sudah banyak orang memenuhi kantin. Seperti biasa langung ku masuk antrean. Sembari menunggu giliran, beberapa kali kulirik jam, waktu sudah lewat 10 menit. Oh perut, sabar ya. Sambil mengobrol dengan teman dibelakang, tiba-tiba kulihat segerombol orang menerobos masuk kedepan. Kemudian memanggil mba pelayan. mungkin merasa suaranya tak didengar maka ia memanggil setengah berteriak supaya dilayani.
Kemudian datang beberapa orang lagi dengan tingkah yang sama. Mungkin, seakan dunia ini hanya merekalah penghuninya.
“gak bisa dibiarin nih”, ucapku pada temanku. Ku tegur salah satu dari mereka. Untuk masuk ke antrean. Tak dihiraukan sama sekali. Kalau dilihat sih sepertinya anak-anak baru. Ya maklumlah mungkin mereka terbiasa dirumah mau makan langsung ambil tak pernah ada istilah mengantre. Jadi belum terbiasa dengan budaya seperti ini. Tapi come on. Kita disini sama. Sama-sama laper. Sama-sama pengen cepet biar gak telat. Si temanku masih betah dalam antrean yang mendadak semrawut itu. Dan aku? Kuputuskan tuk keluar dan menahan semua. Menahan emosi, nahan laper. Oh dunia kala itu sungguh terasa bikin aku “nyesek”.
Aku berjalan menuju kursi dimana salah satu temanku duduk. Langsung ku mengajaknya keluar. Heran dengan sikapku, langsung kujelaskan apa yang barusan terjadi. Kuurungkan niatku tuk makan. Dan kami pun kembali ke kelas dengan perut kosong.
Usai kuliah. Kubergegas menuju kosan. Saat kuhidupkan laptop, cek inbox ternyata ada pesan masuk. Temanku pengirimnya. Isinya sangat cocok dengan apa yang kualami barusan. Tentang arti penting dari sebuah “mengantre”. Yang terkadang sering kita lupa.
Saya tak tau pasti sumbernya,  setelah saya gugling ternyata asal tulisan itu adalah dari Australia. Yang pasti isi dari tulisan itu adalah kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa dirinya tak cemas jika anak didiknya tak pandai matematika. Namun justru ia sangat cemas ketika mereka tak pandai mengantre.
Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan sang guru menjawab :” cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Namun Untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu waktu bertahun-tahun”.
Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre. Disini saya hanya tuliskan beberapa poin yang saya anggap poin amat penting.
Pertama adalah seseorang akan belajar manajemen waktu, jika ia tak mau masuk dalam antrian panjang, maka ia harus datang lebih awal (tapi tidak dengan keluar kelas sebelum bel istirahat ya, J ).
Kedua, seseorang belajar untuk bersabar. Karena dalam mengantre sikap sabarlah yang berperan utama. Terutama jika ia berada di antrean paling belakang.
Ketiga, seseorang belajar menghormati hak orang lain. Bahwa yang datang dulu dialah yang lebih berhak. Ini yang perlu digaris bawahi.
Keempat, seseorang belajar kreatif. Memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre).
Kelima, seseorang belajar tabah dalam proses mencapai tujuannya.
Keenam, seseorang belajar hukum sebab akibat. Seperti poin ketiga.
Ketujuh, seseorang belajar keteraturan dalam hidup.
Begitu banyak nilai-nilai moral yang dapat kita ambil dari sebuah aktifitas “mengantre”. Indah nan damai sekali ketika semua saling menyadari akan hal itu. Sederhananya, “bebek aja ngantri, masa kita enggak”, perumpamaan itulah yang sering dipakai masyarakat kita. ^_^
Semoga bermanfaat. @nisaandromeda


Belajar dari si Abang Tukang Kerang

Tok..tok..tok..kerang..kerang.. (dengan nada khas seorang penjual kerang rebus), begitu ia menjajakkan dagangannya sembari memukul gerobak yang didorongnya.

Aku yang saat itu tengah di dalam angkot sepulang dari mengajar, sejenak memperhatikannya. Ia sudah cukup tua, terlihat dagangannya sudah tinggal sedikit. Syukurlah. Ucapku dalam hati. Karena saat itu hari sudah mulai malam, dan tidak terbayangkan jika dagangannya masih banyak.

Aku kembali melihat jalanan didepan. Memperhatikan mobil-mobil yang saling adu klakson, heran sebenarnya. Toh mereka tau saat itu tengah lampu merah, mbok yo jangan klakson-klakson terus. Nanti kalau lampu sudah hijau juga pasti yang depan jalan. Gerutuku dalam hati. Tapi ya beginilah Jakarta.

Saat angkot yang kunaiki tengah berhenti didepan salah satu masjid di Jatipadang, tiba-tiba kulihat si abang kerang tadi. Ia memarkir gerobaknya didepan gerbang masjid (ditepi jalan, ga masuk area masjid). Mungkin ia sengaja menunggu pelanggan dari para jamaah shalat magrib, pikirku.

Namun ternyata aku salah. Beberapa saat kemudian terdengar iqomah dari masjid, dan sejurus kemudian kulihat si abang kerang itu meninggalkan gerobaknya dan segera menuju tempat wudhu di masjid itu.

Malu sekali. Astaghfirullahaladzim. Dia saja yang dalam keadaan seperti itu seketika menjawab panggilan-NYA, tapi kita, aku khususnya sering kali dengan gampang mengucap “ah, nanti dulu, nanggung satu lembar lagi..”, atau saat lagi asik nonton, “bentar lagi, nanggung, 5 menit lagi abis..”.

Padahal jika dipikir, kata-kata seperti itulah yang sering kali menjadi bumerang bagi kita. Emang dalam 5 menit itu Allah masih kasih kita kesempatan? bisa jadi pas 3 menit menuju 5 menit yang kita tunda Allah cabut nyawa kita. Innalillah.

Ya. Kembali ke abang kerang tadi. Banyak kejadian kecil disekitar kita yang sebenarnya itu menyimpan banyak pelajaran berharga. Seseorang mulia tidak diukur dari harta yang ia punya, tidak pula dari indah parasnya, namun iman dan taqwalah yang jadi pengukurnya.

Selamat belajar untuk yang besok mau ujian. Jangan lupa shalat, makan, dan istirahat secukupnya. Semoga ilmu yang kita dapat menjadi berkah.

Oh iya, hari ini adikku genap berusia 2 tahun. Walaupun lahir pas hari natal, tapi islam loh yah. He. Semoga semakin pintar, lincah dan jadi anak sholehah. Amin.

Wednesday, February 18, 2015

Ceritaku di hari rabu


Seperti biasa setiap hari senin, rabu dan jum’at sore jadwal saya ngajar di TPA. Hari ini pas kebetulan materi saya adalah hafalan surah Az-Zalzalah. Alhamdulillah tadi sebagian besar sudah hafal. Nah selesai hafalan saya ingin menyampaikan tentang isi surah Az-zalzalah, ya biar mereka ngga cuma hafal ayatnya tapi tau makna dari apa yang mereka hafal.


“Jadi surat Az-zalzalah itu menceritakan tentang proses datangnya hari kiamat nanti, ucapku. Ayat pertama artinya apabila bumi digoncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Nah jadi nanti itu buminya sama Allah digoyang-goyang, diguncang-guncang semua orang pada lari ketakutan, mereka pada udah ngga ingat sama hartanya, keluarganya, hewan piaraannnya, pokoknya dipikiran mereka cuma gimana caranya biar mereka selamat...”lanjutku.


Anak-anak terlihat begitu antusias mendengarnya. Tapi kulihat ada satu anak yang terlihat berbeda dari yang lain. Dia adalah Fahar (7th). Masih kelas 1 SD tapi sudah bisa baca Al-Qur’an. Dia anak yang cerdas. Dia termasuk yang cepat nangkep, kalo hafalan juga dia cepat, mudah bergaul, aktif pula, dan untuk anak seusianya dia tipe anak bertanggung jawab.


“kak Nisa, saya takut nanti sakit..”tiba-tiba dia bilang gitu. "Emang kenapa?" tanyaku. 
"Soalnya waktu itu saya pernah liat video tentang hari kiamat gitu kak terus saya sakit soalnya saya takut banget”ucapnya.


Kaget aku dengernya. Pantesan mendadak kulihat dia terlihat aneh. Dia diam ikut dengerin tapi raut mukanya terlihat pucat. Aku khawatir.


“oke, ya udah kak Nisa ngga jadi lanjutin ceritanya ya, kasian nanti Fahar sakit. Oke.."ucapku pada yang lain. "Kita langsung ke ayat terakhir. Jadi nanti ada timbangan buat nimbang amal-amal kita yang udah kita lakuin di dunia. Bagi siapa aja yang melakukan kebaikan walau sekecil biji dzarrah, biji dzarrah itu biji yang kecil banget, itu nanti akan dikasih balasannya sama Allah. Misalnya fahar lagi jalan eh liat ditengah jalan ada duri tuh terus fahar mindahin duri itu ke pinggir jalan biar ngga ada yang ketusuk, nah kebaikan itu walaupun kecil nanti dikasih balasannya sama Allah”.


"Dan sebaliknya, kalo kita melakukan keburukan, kejahatan walau sekecil apapun juga sama, nanti sama Allah akan dikasih balasannya. Contohnya...” belum selesai aku ngomong tiba-tiba mereka bilang,”jangan aku kak, jangan aku..” haha, biasa kalo buat yang jelek pasti ngga ada yang mau buat contoh.


“oke, misalnya kalian lagi nulis di sini, terus tiba-tiba ada yang jahilin temannya, ngumpetin pulpennya misalnya, terus pas ditanyain ngga ngaku, nah itu nanti juga dikasih balasannya sama Allah. Jadi selama kita masih hidup di dunia, kita harus banyakin berbuat baik, walau sekecil apapun biar nanti timbangan kebaikan kita lebih berat dari timbangan amal buruk, biar kita nanti masuk ke...” “surga..” teriak mereka.


Kulihat fahar sudah kembali seperti semula. Syukurlah. Lalu kulanjutkan dengan menyampaikan tentang surga biar semangat. Bahwa di surga itu semuanya ada, nanti juga bisa ketemu sama nabi-nabi, terus di surga nanti semua orang ngga ada yang tua. Semuanya muda. Yang tadinya di dunia dia udah tua, nenek-nenek, udah keriput nanti di surga dia kembali muda. Kuncinya ya satu, kita harus selalu berbuat baik. Ngga boleh jahat sama temen. Rajin sholat, rajin ngaji, berbakti sama orang tua. Mereka terlihat sumringah sambil manggut-manggut.


Alhamdulillah ya Allah, aku masih diberi kesempatan untuk bertemu mereka. Selalu ada pengalaman baru setiap harinya. Bahagia itu sederhana, melihat anak-anak yang kita ajar manggut-manggut tanda paham dan mengerti dengan apa yang kita sampaikan, itu sudah cukup.

Wednesday, December 24, 2014

Belajar dari si Abang Penjual Kerang

Tok..tok..tok..kerang..kerang.. (dengan nada khas seorang penjual kerang rebus), begitu ia menjajakkan dagangannya sembari memukul gerobak yang didorongnya.

Aku yang saat itu tengah di dalam angkot sepulang dari mengajar, sejenak memperhatikannya. Ia sudah cukup tua, terlihat dagangannya sudah tinggal sedikit. Syukurlah. Ucapku dalam hati. Karena saat itu hari sudah mulai malam, dan tidak terbayangkan jika dagangannya masih banyak.

Aku kembali melihat jalanan didepan. Memperhatikan mobil-mobil yang saling adu klakson, heran sebenarnya. Toh mereka tau saat itu tengah lampu merah, mbok yo jangan klakson-klakson terus. Nanti kalau lampu sudah hijau juga pasti yang depan jalan. Gerutuku dalam hati. Tapi ya beginilah Jakarta.

Saat angkot yang kunaiki tengah berhenti didepan salah satu masjid di Jatipadang, tiba-tiba kulihat si abang kerang tadi. Ia memarkir gerobaknya didepan gerbang masjid (ditepi jalan, ga masuk area masjid). Mungkin ia sengaja menunggu pelanggan dari para jamaah shalat magrib, pikirku.

Namun ternyata aku salah. Beberapa saat kemudian terdengar iqomah dari masjid, dan sejurus kemudian kulihat si abang kerang itu meninggalkan gerobaknya dan segera menuju tempat wudhu di masjid itu.

Malu sekali. Astaghfirullahaladzim. Dia saja yang dalam keadaan seperti itu seketika menjawab panggilan-NYA, tapi kita, aku khususnya sering kali dengan gampang mengucap “ah, nanti dulu, nanggung satu lembar lagi..”, atau saat lagi asik nonton, “bentar lagi, nanggung, 5 menit lagi abis..”.

Padahal jika dipikir lagi, kata-kata seperti itulah yang sering kali menjadi bumerang bagi kita. Emang dalam 5 menit itu Allah masih kasih kita kesempatan? bisa jadi pas 3 menit menuju 5 menit yang kita tunda Allah cabut nyawa kita. Innalillah.

Ya. Kembali ke abang kerang tadi. Banyak kejadian kecil disekitar kita yang sebenarnya itu menyimpan banyak pelajaran berharga. Seseorang mulia tidak diukur dari harta yang ia punya, tidak pula dari indah parasnya, namun iman dan taqwalah yang jadi pengukurnya.

Selamat belajar untuk yang besok mau ujian. Jangan lupa shalat, makan, dan istirahat secukupnya. Semoga ilmu yang kita dapat menjadi berkah.

Oh iya, hari ini adikku genap berusia 2 tahun. Walaupun lahir pas hari natal, tapi islam loh yah. He. Semoga semakin pintar, lincah dan jadi anak sholehah. Amin.

Friday, October 3, 2014

Fa biayyi aalai robbikumaa tukadzzibaan...



Hari pertama di bulan oktober 2014

Tak terasa bulan berganti begitu cepat. Seakan baru kemarin kita merayakan hari raya idul fitri, dan ternyata sebentar lagi idul adha akan segera datang.


Mengawali bulan baru ini, pengalaman baru pun ikut mengisi. Tepatnya dimulai sejak akhir bulan September dan berakhir pada hari ini.


Sudah hampir tiga semester aku bergabung di Rumah Fiqih. Dan begitu banyak manfaat yang kudapat darinya. Laa tuhsho. Kemarin kita mengadakan rihlah. Tapi jangan dibayangkan rihlah kita seperti rihlah lainnya, yang hanya bertujuan untuk refreshing dan bersenang-senang. Rihlah yang diadakan Rumah Fiqih adalah rihlah ilmiah. Maksudnya? Ya rihlah yang disitu kita tetap belajar. Ya bisa dikatakan kita hanya pindah tempat kuliah saja.


Rihlah ini bertempat di daerah puncak tepatnya di daerah Pasir Muncang, Mega Mendung, Bogor. Vila Hasaqina adalah nama vila yang kami tempati selama disana. Vila yang cukup besar dengan dua kolam renang dan halaman yang luas ditambah dengan pemandangan puncak yang amat indah itu membuat kami merasa begitu nyaman bahkan saat baru pertama menginjakkan kaki disana. Fabiayyi alaai robbikuma tukadzzibaan..


Ini adalah rihlah kedua yang Rumah Fiqih adakan. The 2nd Rihlah Ilmiah Kampus Syariah Indonesia kali ini mengambil tema “Mentradisikan Turats, Tahfidz dan Kepenulisan. Sesuai dengan tema ini, jadwal acara yang dibuat terdiri dari tiga acara penting yaitu: Al-Bahtsu wa At-Tahqiq, Kuis Turats dan Seminar Kepenulisan.


Pagi-pagi sekali kami berangkat dari stasiun Ps.Minggu. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dan ditambah nyasar-nyasar juga, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Sambil menunggu rombongan lain yang belum datang, kami menyempatkan diri untuk berjaan-jalan di sekitar vila. Sambil sesekali berfoto. Eh salah, berkali-kali foto maksudnya. He.


Acara dimulai sesudah zuhur. Setelah semua peserta datang. Yang berjumlah sekitar 40 orang ikhwan dan akhwat. Langsung ke acara inti pertama yaitu al-Bahtsu wa at-Tahqiq. Ini adalah acara seperti forum diskusi dimana kami dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing terdiri dari 6-7 orang. Kemudian panitia memberi sebuah permasalahan fiqih dan kelima kelompok tadi memaparkan pendapat masing-masing mazhab, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali dan pendapat ulama kontemporer.


Ada dua permasalahan yang diangkat pada sesion ini. Yang pertama adalah hukum ikhtilat (pengertian, pendapat tiap mazhab, dalil dan wajhul Istidlal). Yang kedua adalah tentang hukum bersalaman bagi laki-laki dan perempuan nun mahram. Setelah pembagian kelompok, aku masuk dalam kelompok mazhab Maliki. Dan aku mendapat giliran untuk membahas permasalahan yang kedua.


Acara al-Bahtsu wa at-Tahqiq kali ini tidak begitu berat bagi kami. Berbeda dengan acara serupa yang diadakan sebelumnya. Waktu itu kami masih begitu asing dengan yang namanya Mausuah Fiqhiyyah juga Maktabah Syamilah. Namun kali ini sudah lumayan ada peningkatan Alhamdulillah.


Setelah selesai mencari jawaban dengan menyertakan sumber-sumbernya. Tiba 
saatnya sesi pemaparan jawaban tiap mazhab. Namun karena waktu yang telah memasuki waktu magrib maka kali itu permasalahan yang dibahas hanya permasalahan yang pertama. Padahal aku sudah mempersiapkan pemaparan permasalahan kedua. But, it’s ok. Ga ada yang sia-sia. Karena dengan begitu aku juga menambah pengetahuan fiqihku.


Saat malam tiba, aku merasa badanku ga enak. Batuk, flu dan ditambah hawa dingin membuatku sangat tak nyaman. Sebenarnya dari awal berangkat aku sudah merasa agak ga enak badan, namun pikirku, ah paling juga bentar lagi sembuh. Maka ba’da magrib akupun tertidur setelah meminum obat yang diberikan oleh salah satu temanku. Jam 21.30 aku terbangun mendengar bahwa acara kedua akan segera dimulai.


Kami segera menuju ruang utama setelah menyelesaikan makan malam. Acara yang kedua adalah Kuis Turats. Mendengar judulnya saja pasti bisa dibayangkan seperti apa acaranya. Itu adalah kuis layaknya cerdas cermat. Namun pertanyaan yang ada adalah seputar bibliografi fiqih. Tentang nama-nama kitab, penulisnya, riwayat hidup dll, ya pokoknya gitulah.


Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti acara. Melihat jawaban teman-teman membuat aku termotivasi untuk lebih dalam mempelajari bibliografi fiqih. Mengetahui riwayat hidup para ulama adalah sebuah anugerah yang tak terkira. Dan ternyata kami pun seakan terbius dalam acara tersebut karena tak terasa waktu menunjukkan pukul 00.00 malam ketika acara berakhir. Dan kami hampir tak ada yang mengantuk. Kau tau, ending acara itu apa? Kelompok kami kalah. Hihii. Malu sih, tapi ga papa lah, besok belajar lebih serius lagi, ya ga?


Pagi harinya, yang berarti itu adalah pagi tadi, tak ada acara khusus. Dari pagi sampai zuhur acaranya Free. Ada yang jalan-jalan, ada yang berenang. Baru setelah zuhur acara inti yang terakhir yaitu Seminar Kepenulisan. Kali ini Ust Sarwat yang langsung menjadi pembicaranya. Disitu beliau menyampaikan bagaimana memulai menulis hingga akhirnya membuat buku sendiri. Sangat menarik. Karena apa yang beliau sampaikan adalah apa yang beliau alami dalam merintis buku-bukunya hingga bisa seperti sekarang ini.


Aku sangat tergugah dengan apa yang beliau sampaikan. “Tapi saya bisa seperti sekarang ini kan harus memulai dari nol dulu, harus mengalami rugi 25 juta dulu, sekarang kalian semua fasilitas sudah tersedia. Sudah ada Rumah Fiqih publishing. Tinggal menulisnya. Ibarat seorang yang masuk hutan, dulu saya benar-benar tak tau arah, harus mencari jalan sendiri, sekarang kalian ke hutan sudah ditemani guide.... fabiayyi aalai robbikuma tukadziban..Jadi, ayo menulislah”. Itu kata terakhir yang beliau ucapkan sebelum menutup pembicaraan siang tadi.


So, ayo menulis lagi. Asah pisau yang hampir tumpul itu agar kembali tajam. Isi liburan ini dengan melatih tangan menulis lagi.

Bismillah...