fiqh

Monday, September 29, 2014

Syarat masuk SD zaman dulu, harus hafal Al-Qur'an. Serius?

Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar istilah“ilmu nahwu”? ilmu nahwu itu apa? Bagi yang pernah belajar bahasa Arab, ilmu nahwu pasti tak asing baginya. Ya, layaknya bahasa Inggris yang mempunyai grammar, bahasa Arab punya nahwu. Bisa dibilang ilmu nahwu itu adalah grammarnya bahasa Arab.

Namun di sini saya tidak akan membahas tentang ilmu nahwu terlalu panjang. Hanya ingin berbagi tentang apa yang saya dapat dari dosen nahwu saya beberapa waktu lalu.

Bagi yang sudah kenal ilmu nahwu pasti tak asing dengan salah satu kitab nahwu yang berjudul “"أوضح
المسالك إلى ألفية ابن مالك yang ditulis oleh Ibnu Hisyam. Buku itu berisi materi nahwu yang ditulis dengan bahasa yang cukup sulit, bahkan rumit. Hingga tak jarang kami harus membuka dan mencari penjelasan dari sumber lainnya.

Sering terpikir oleh kami, kenapa Ibnu Hisyam tidak menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti?

Salah satu tokoh nahwu terkemuka, Sibawaih mengatakan bahwa dia menuliskannya dengan menyesuaikan keadaan muridnya pada masa itu. Seorang guru yang mengajari muridnya maka ia akan gunakan bahasa yang paling pas untukmereka. Memang, gimana keadaan murid mereka saat itu? Mari kita simak...

Pada masa itu seorang anak yang hendak masuk sekolah SD syaratnya harus hafidz alqur’an. Itulah kenapa umur anak yang akan masuk SD pada masa itu ada yang berumur 8 tahun, bahkan 9 tahun.

Maka tak heran jika pada masa itu ada anak kecil sudah hafal alqur’an karena saat itu jumlah penghafal alqur’an sangat banyak sekali. Bahkan hampir semuanya.

Jika ada anak yang hafal alqur’an tak ada yang namanya syahadah atau sejenisnya. Tak seperti sekarang sering kita jumpai wisuda alqur’an atau haflah hafidz alqur’an, ya karena jumlah penghafal alqur’an sangat terbatas.

Kembali ke kitab nahwu tadi. Maka tak heran jika kualitas umat terdahulu dan sekarang sangat jauh berbeda.

Saya jadi teringat kisah salah satu khulafaur rasyidin. Ketika itu umat islam dipimpin oleh khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu keadaan kaum muslimin tengah menghadapi banyak masalah, mulai dari orang yang mengaku nabipalsu kemudian banyak diantara kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat.

Lalu datanglah seorang laki-laki pada khalifah Ali bin Abi Thalib,kemudian bertanya: “wahai khalifah, dulu ketika kaum muslimin dipimpin oleh Usman bin Affan, keadaan seperti ini tak pernah terjadi, akan tetapi mengapa sekarang berbeda sekali?

Apa yang khalifah Ali katakan saat itu? “dulu pada masa kepemimpinan Usman, umatnya seperti aku, sedangkan sekarang umatnya seperti kamu”.

Itulah kenapa umat sekarang dan umat dahulu sangat berbeda.Karena dari segi kualitas ilmu dan iman pun sudah sangat berbeda. Akan tetapi harus selalu berusaha meneladani sifat dan kebiasaan mereka. Selalu belajar dan memperkaya ilmu. Karena seorang ulama (orang yang berilmu) itulah “ahli waris”para nabi.

Rasulullah pun telah mengatakan bahwa sebaik-baik umatnya adalah yang tidak pernah bertemu dengan beliau akan tetapi percaya dan beriman dengannya. Semoga kita termasuk didalamnya. Amin.

Wallahu a’lam bishshawab…