Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar istilah“ilmu nahwu”?
ilmu nahwu itu apa? Bagi yang pernah belajar bahasa Arab, ilmu nahwu
pasti tak asing baginya. Ya, layaknya bahasa Inggris yang mempunyai
grammar, bahasa Arab punya nahwu. Bisa dibilang ilmu nahwu itu adalah
grammarnya bahasa Arab.
Namun di sini saya tidak akan
membahas tentang ilmu nahwu terlalu panjang. Hanya ingin berbagi tentang
apa yang saya dapat dari dosen nahwu saya beberapa waktu lalu.
Bagi
yang sudah kenal ilmu nahwu pasti tak asing dengan salah satu kitab
nahwu yang berjudul “"أوضح
المسالك إلى ألفية ابن مالك yang ditulis oleh
Ibnu Hisyam. Buku itu berisi materi nahwu yang ditulis dengan bahasa
yang cukup sulit, bahkan rumit. Hingga tak jarang kami harus membuka dan
mencari penjelasan dari sumber lainnya.
Sering terpikir oleh kami, kenapa Ibnu Hisyam tidak menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti?
Salah
satu tokoh nahwu terkemuka, Sibawaih mengatakan bahwa dia menuliskannya
dengan menyesuaikan keadaan muridnya pada masa itu. Seorang guru yang
mengajari muridnya maka ia akan gunakan bahasa yang paling pas
untukmereka. Memang, gimana keadaan murid mereka saat itu? Mari kita
simak...
Pada masa itu seorang anak yang hendak masuk
sekolah SD syaratnya harus hafidz alqur’an. Itulah kenapa umur anak yang
akan masuk SD pada masa itu ada yang berumur 8 tahun, bahkan 9 tahun.
Maka
tak heran jika pada masa itu ada anak kecil sudah hafal alqur’an karena
saat itu jumlah penghafal alqur’an sangat banyak sekali. Bahkan hampir
semuanya.
Jika ada anak yang hafal alqur’an tak ada
yang namanya syahadah atau sejenisnya. Tak seperti sekarang sering kita
jumpai wisuda alqur’an atau haflah hafidz alqur’an, ya karena jumlah
penghafal alqur’an sangat terbatas.
Kembali ke kitab nahwu tadi. Maka tak heran jika kualitas umat terdahulu dan sekarang sangat jauh berbeda.
Saya
jadi teringat kisah salah satu khulafaur rasyidin. Ketika itu umat
islam dipimpin oleh khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu keadaan
kaum muslimin tengah menghadapi banyak masalah, mulai dari orang yang
mengaku nabipalsu kemudian banyak diantara kaum muslimin yang tidak mau
membayar zakat.
Lalu datanglah seorang laki-laki pada
khalifah Ali bin Abi Thalib,kemudian bertanya: “wahai khalifah, dulu
ketika kaum muslimin dipimpin oleh Usman bin Affan, keadaan seperti ini
tak pernah terjadi, akan tetapi mengapa sekarang berbeda sekali?
Apa
yang khalifah Ali katakan saat itu? “dulu pada masa kepemimpinan Usman,
umatnya seperti aku, sedangkan sekarang umatnya seperti kamu”.
Itulah
kenapa umat sekarang dan umat dahulu sangat berbeda.Karena dari segi
kualitas ilmu dan iman pun sudah sangat berbeda. Akan tetapi harus
selalu berusaha meneladani sifat dan kebiasaan mereka. Selalu belajar
dan memperkaya ilmu. Karena seorang ulama (orang yang berilmu) itulah
“ahli waris”para nabi.
Rasulullah pun telah mengatakan
bahwa sebaik-baik umatnya adalah yang tidak pernah bertemu dengan beliau
akan tetapi percaya dan beriman dengannya. Semoga kita termasuk
didalamnya. Amin.
Wallahu a’lam bishshawab…
