fiqh

Monday, December 23, 2013

AADM (Ada Apa Dengan Mengantre)...

Sepertinya istilah “mengantre” sudah sangat akrab di telinga kita. Terutama daerah Jakarta yang semuanya seakan tak afdhol kalau tak “antre”. Dimana-mana kita lihat tempat-tempat penuh dengan antrean manusia.

Mulai dari beli sayur di pedagang keliling sampai menunggu bayar belanjaan di kasir mall.
Mulai dari antri bikin ktp di kelurahan sampai bikin rekening di bank.

Hal seperti itu sudah menjadi santapan lezat sehari-hari. Tapi hal yang kadang terlupakan adalah bahwa dalam “mengantre” itu terkandung pelajaran yang sangat berharga.

Kemarin saya mendapat inbox dari teman tentang pelajaran dibalik “mengantre” . Bermula dari kekecewaan saya ketika memasuki kantin kampus. Ya, kantin yang merupakan tujuan favorit mahasiswa kampus kami kala bel istirahat terdengar di seantero kelas. 

Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.

Oke kembali ke “antre” tadi.

Sampai di depan kantin, tampak dari luar sudah banyak orang memenuhi kantin. Seperti biasa langung ku masuk antrean. Sembari menunggu giliran, beberapa kali kulirik jam, waktu sudah lewat 10 menit. Oh perut, sabar ya. Sambil mengobrol dengan teman dibelakang, tiba-tiba kulihat segerombol orang menerobos masuk kedepan. Kemudian memanggil mba pelayan. Mungkin merasa suaranya tak didengar maka ia memanggil setengah berteriak supaya dilayani. (Sama sekali tidak bermaksud ghibah, hanya sebagai reminder aja).

Kemudian datang beberapa orang lagi dengan tingkah yang sama. Mungkin, seakan di dunia ini hanya merekalah penghuninya. Maklum, kalo lagi laper terkadang gampang emosi.
gak bisa dibiarin nih”, ucapku pada temanku. Ku tegur salah satu dari mereka untuk masuk ke antrean. Tak dihiraukan sama sekali. 

Kalau dilihat sih sepertinya anak-anak baru. Ya maklumlah mungkin mereka terbiasa dirumah ketika makan langsung ambil tak pernah ada istilah mengantre. Jadi belum terbiasa dengan budaya seperti ini. But, come on, kita disini sama. Sama-sama laper. Sama-sama pengen cepet biar gak telat. Si temanku masih betah dalam antrean yang mendadak semrawut itu. Dan aku? Kuputuskan tuk keluar dan menahan semua. Menahan emosi, nahan laper. Oh dunia kala itu sungguh terasa bikin aku “nyesek”.

Aku berjalan menuju kursi dimana salah satu temanku duduk. Langsung ku mengajaknya keluar. Heran dengan sikapku, langsung kujelaskan apa yang barusan terjadi. Kulihat waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Kuurungkan niatku tuk makan. Dan kami pun kembali ke kelas dengan perut kosong.

Usai kuliah. Kubergegas menuju kosan. Saat kuhidupkan laptop, cek inbox ternyata ada pesan masuk. Temanku pengirimnya. Isinya sangat cocok dengan apa yang kualami barusan. Tentang arti penting dari sebuah “mengantre”. Yang terkadang sering kita lupa.

Saya tak tau pasti sumbernya,  setelah saya gugling ternyata asal tulisan itu adalah dari Australia sana. Yang pasti isi dari tulisan itu adalah kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa dirinya tak cemas jika anak didiknya tak pandai matematika. Namun justru ia sangat cemas ketika mereka tak pandai mengantre.

Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan sang guru menjawab :” cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Namun untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu waktu bertahun-tahun”.

Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre. Disini saya hanya tuliskan beberapa poin yang saya anggap poin amat penting.

Pertama adalah seseorang akan belajar manajemen waktu, jika ia tak mau masuk dalam antrian panjang, maka ia harus datang lebih awal (tapi tidak dengan keluar kelas sebelum bel istirahat ya, J ).

Kedua, seseorang belajar untuk bersabar. Karena dalam mengantre sikap sabarlah yang berperan utama. Terutama jika ia berada di antrean paling belakang.

Ketiga, seseorang belajar menghormati hak orang lain. Bahwa yang datang dulu dialah yang lebih berhak. Ini yang perlu digaris bawahi.

Keempat, seseorang belajar kreatif. Memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre).

Kelima, seseorang belajar tabah dalam proses mencapai tujuannya.

Keenam, seseorang belajar hukum sebab akibat. Seperti poin ketiga.

Ketujuh, seseorang belajar keteraturan dalam hidup.

Begitu banyak nilai-nilai moral yang dapat kita ambil dari sebuah aktifitas “mengantre”. Indah nan damai sekali ketika semua saling menyadari akan hal itu. Sederhananya, “bebek aja ngantri, masa kita enggak”, perumpamaan itulah yang sering dipakai masyarakat kita. ^_^

Semoga bermanfaat. @nisaandromeda



Monday, December 16, 2013

Guru, Orang Tua, Anak = Tak terpisahkan

usai mengajar tadi sore, salah satu wali murid menghampiri saya,

“kak do’a-do’a apa aja yang buat ujian rabu besok, bisa minta catatin gak, biar farel bisa belajar dirumah?” tanyanya.

“owh, bentar saya copyin”, jawabku.

“tadi farel bisa gak kak?”, tanyanya lagi.

“bisa kok bu, lancar”, jawabku tersenyum.

Ya, dia adalah ibu dari salah satu murid saya, farel. Yang masih duduk dikelas 1 SD, tapi bacaan ngajinya sudah melebihi teman-teman yang kelas 3. bagi saya itu adalah hal yang membahagiakan. ketika ada orang tua yang memperhatikan anaknya terutama belajarnya. Karena banyak dari wali murid yang acuh tak acuh. Tak pernah menanyakan gimana anaknya, perkembangan belajarnya. Sehingga si anak pun sering merasa susah ketika suruh baca materi yang kemarin disampaikan karena dirumah tak pernah diulang. 

berbeda dengan orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya, maka dia akan menanyakan ada PR kah? Gimana tadi sekolahnya? Bisa apa gak? Jika ada yang susah maka dia mengajarinya, jika tau waktunya ujian dia menyuruh anaknya belajar. Ketika anaknya malas berangkat, orang tua mengingatkannya. Dan begitulah seyogyanya.

Karena suksesnya seorang anak tidak mutlak dari pihak guru. Tapi orang tua lah yang lebih besar perannya. Guru hanya memfasilitasi. Menyampaikan ilmu. Selebihnya dirumah anak lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Maka sangat disayangkan ketika ada seorang anak yang gagal ujian atau nilainya jelek kemudian si orang tua justru menyalahkan gurunya.

Harus ada kerja sama antara orang tua dan guru. Dan itulah yang selalu disampaikan ketika ada pertemuan wali murid.

Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang menjadi wasilah kesuksesan anak kita. amin.

Friday, December 13, 2013

Ibnu Umar, Pecinta Rasul


Siapa yang tak kenal Ibnu Umar. Beliau adalah Abdullah bin Umar, anak dari amirul mukminin, Umar bin Khattab. Namun lebih dikenal dengan nama Ibnu Umar. Karena pada waktu itu ada banyak nama Abdullah, seperti Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Mas'ud, dll.

Beliau adalah perawi hadits dan juga sahabat yang dikenal sangat sering bermulazamah dengan Rasulullah.
Tak ada sahabat Rasul yang tidak cinta kepada Rasul. Mereka menunjukkan kecintaannya dengan menjalankan sunnah-sunnahnya. Begitu pun Ibnu Umar. Bahkan saking cintanya, pada Rasul, dia tidak hanya mengikuti perintah dan sunnah-sunnahnya, tapi juga sampai hal terkecil yang bahkan sahabat lain tidak melakukannya.

Pernah suatu hari Ibnu Umar melihat Rasulullah berjalan di suatu tempat, dan ketika melewati sebuah pohon, Rasul berjalan memutari pohon tersebut. Besoknya pun begitu.

Dan ketika Rasulullah telah wafat, suatu hari Ibnu Umar berjalan dengan sahabat yang lain, dan melewati tempat dimana dulu Rasul selalu memutari pohon disitu. ketika itu, pohon itu telah ditebang dan sudah tak ada bekasnya. Namun beliau masih sangat ingat tempatnya.

Ibnu Umar tiba-tiba berjalan memutari tempat dimana pohon itu dulu tumbuh.
Para sahabat bertanya,"wahai ibnu umar, apa yang kau lakukan..?".
"dulu disini ada sebuah pohon, dan tiap Rasul lewat ditempat ini, beliau berjalan memutari pohon itu", jawab Ibnu Umar.

bayangkan, saking cintanya kepada Rasul bahkan hal-hal yang sekecil itu  pun diikuti. Padahal itu kan bukan sunnah. Namun Ibnu Umar pun mengikutinya, sebagai bentuk cintanya pada Rasul.

والآن، أين نحن منهم؟

sudahkah kita mengikuti sunnah-sunnahnya?
bahkan, hal-hal yang wajib pun sering kita tinggalkan. Pantaskah kita disebut Umat yang mencintainya?
wallahu a'lam bishshawab.. ^_^