fiqh

Wednesday, May 14, 2014

I Planned but Allah has another plan

Pernah gak kamu merasakan berada disaat kita lagi begitu menikmati suatu disiplin ilmu, lagi nyaman-nyamannya, lagi pewe-pewenya, rasanya tuh rugi banget kalo melewatkannya. Saat dimana kita lagi cinta banget sama pelajarannya plus ditambah pengajar yang super keren, yang membuat kita benar-benar tak rela untuk lalai sedikitpun.

Namun justru ketika ujian di pelajaran itu, apa yang kita dapat? Ternyata nilai kita jauh dari apa yang diperkirakan. Dan lebih parahnya lagi, teman-teman dekat kita ternyata jauh diatas kita. Benar sekali kata Ranchodas Chancad:"kita sedih jika nilai kita tak seperti yang diharapkan, namun akan terasa makin sedih jika melihat teman kita jauh diatas kita".

Memang benar,apa sih arti sebuah nilai? toh nanti kalau sudah lulus juga gak akan ditanya. Dan kita akui bukan nilailah yang menjadi prioritas kita. Bukan. Sama sekali bukan. Akan tetapi jauh didalam hati ini ada suara yang diam-diam berseru:”katanya suka pelajaran ini, tapi mana buktinya…?”. Asli nyesek banget. Malu sama diri sendiri.

Saat itulah kita seperti berada di titik terendah dalam perjalanan kita.
kalo kata teman saya:"kita tengah berada di titik nadir"


Saat itulah kita harus memaksa diri tuk segera bangkit. Tuk segera melupakan dan berdiri tegak menghadap kedepan, melihat betapa Allah sangat menyayangi kita dengan memberikan kita cobaan dan tantangan. Akankah kita berdiam dalam keterpurukan ataukah bangkit menatap jauh kedepan jalan yang masih harus kita lewati. Akankah kita menjadi hamba yang lulus uji ataukah produk gagal.

My life may not be going the way I planned, but its going exactly the Allah has planned. Indeed Allah is a better planner, the guide. So, just keep praying.

No comments:

Post a Comment