fiqh

Friday, October 3, 2014

Fa biayyi aalai robbikumaa tukadzzibaan...



Hari pertama di bulan oktober 2014

Tak terasa bulan berganti begitu cepat. Seakan baru kemarin kita merayakan hari raya idul fitri, dan ternyata sebentar lagi idul adha akan segera datang.


Mengawali bulan baru ini, pengalaman baru pun ikut mengisi. Tepatnya dimulai sejak akhir bulan September dan berakhir pada hari ini.


Sudah hampir tiga semester aku bergabung di Rumah Fiqih. Dan begitu banyak manfaat yang kudapat darinya. Laa tuhsho. Kemarin kita mengadakan rihlah. Tapi jangan dibayangkan rihlah kita seperti rihlah lainnya, yang hanya bertujuan untuk refreshing dan bersenang-senang. Rihlah yang diadakan Rumah Fiqih adalah rihlah ilmiah. Maksudnya? Ya rihlah yang disitu kita tetap belajar. Ya bisa dikatakan kita hanya pindah tempat kuliah saja.


Rihlah ini bertempat di daerah puncak tepatnya di daerah Pasir Muncang, Mega Mendung, Bogor. Vila Hasaqina adalah nama vila yang kami tempati selama disana. Vila yang cukup besar dengan dua kolam renang dan halaman yang luas ditambah dengan pemandangan puncak yang amat indah itu membuat kami merasa begitu nyaman bahkan saat baru pertama menginjakkan kaki disana. Fabiayyi alaai robbikuma tukadzzibaan..


Ini adalah rihlah kedua yang Rumah Fiqih adakan. The 2nd Rihlah Ilmiah Kampus Syariah Indonesia kali ini mengambil tema “Mentradisikan Turats, Tahfidz dan Kepenulisan. Sesuai dengan tema ini, jadwal acara yang dibuat terdiri dari tiga acara penting yaitu: Al-Bahtsu wa At-Tahqiq, Kuis Turats dan Seminar Kepenulisan.


Pagi-pagi sekali kami berangkat dari stasiun Ps.Minggu. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dan ditambah nyasar-nyasar juga, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Sambil menunggu rombongan lain yang belum datang, kami menyempatkan diri untuk berjaan-jalan di sekitar vila. Sambil sesekali berfoto. Eh salah, berkali-kali foto maksudnya. He.


Acara dimulai sesudah zuhur. Setelah semua peserta datang. Yang berjumlah sekitar 40 orang ikhwan dan akhwat. Langsung ke acara inti pertama yaitu al-Bahtsu wa at-Tahqiq. Ini adalah acara seperti forum diskusi dimana kami dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing terdiri dari 6-7 orang. Kemudian panitia memberi sebuah permasalahan fiqih dan kelima kelompok tadi memaparkan pendapat masing-masing mazhab, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali dan pendapat ulama kontemporer.


Ada dua permasalahan yang diangkat pada sesion ini. Yang pertama adalah hukum ikhtilat (pengertian, pendapat tiap mazhab, dalil dan wajhul Istidlal). Yang kedua adalah tentang hukum bersalaman bagi laki-laki dan perempuan nun mahram. Setelah pembagian kelompok, aku masuk dalam kelompok mazhab Maliki. Dan aku mendapat giliran untuk membahas permasalahan yang kedua.


Acara al-Bahtsu wa at-Tahqiq kali ini tidak begitu berat bagi kami. Berbeda dengan acara serupa yang diadakan sebelumnya. Waktu itu kami masih begitu asing dengan yang namanya Mausuah Fiqhiyyah juga Maktabah Syamilah. Namun kali ini sudah lumayan ada peningkatan Alhamdulillah.


Setelah selesai mencari jawaban dengan menyertakan sumber-sumbernya. Tiba 
saatnya sesi pemaparan jawaban tiap mazhab. Namun karena waktu yang telah memasuki waktu magrib maka kali itu permasalahan yang dibahas hanya permasalahan yang pertama. Padahal aku sudah mempersiapkan pemaparan permasalahan kedua. But, it’s ok. Ga ada yang sia-sia. Karena dengan begitu aku juga menambah pengetahuan fiqihku.


Saat malam tiba, aku merasa badanku ga enak. Batuk, flu dan ditambah hawa dingin membuatku sangat tak nyaman. Sebenarnya dari awal berangkat aku sudah merasa agak ga enak badan, namun pikirku, ah paling juga bentar lagi sembuh. Maka ba’da magrib akupun tertidur setelah meminum obat yang diberikan oleh salah satu temanku. Jam 21.30 aku terbangun mendengar bahwa acara kedua akan segera dimulai.


Kami segera menuju ruang utama setelah menyelesaikan makan malam. Acara yang kedua adalah Kuis Turats. Mendengar judulnya saja pasti bisa dibayangkan seperti apa acaranya. Itu adalah kuis layaknya cerdas cermat. Namun pertanyaan yang ada adalah seputar bibliografi fiqih. Tentang nama-nama kitab, penulisnya, riwayat hidup dll, ya pokoknya gitulah.


Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti acara. Melihat jawaban teman-teman membuat aku termotivasi untuk lebih dalam mempelajari bibliografi fiqih. Mengetahui riwayat hidup para ulama adalah sebuah anugerah yang tak terkira. Dan ternyata kami pun seakan terbius dalam acara tersebut karena tak terasa waktu menunjukkan pukul 00.00 malam ketika acara berakhir. Dan kami hampir tak ada yang mengantuk. Kau tau, ending acara itu apa? Kelompok kami kalah. Hihii. Malu sih, tapi ga papa lah, besok belajar lebih serius lagi, ya ga?


Pagi harinya, yang berarti itu adalah pagi tadi, tak ada acara khusus. Dari pagi sampai zuhur acaranya Free. Ada yang jalan-jalan, ada yang berenang. Baru setelah zuhur acara inti yang terakhir yaitu Seminar Kepenulisan. Kali ini Ust Sarwat yang langsung menjadi pembicaranya. Disitu beliau menyampaikan bagaimana memulai menulis hingga akhirnya membuat buku sendiri. Sangat menarik. Karena apa yang beliau sampaikan adalah apa yang beliau alami dalam merintis buku-bukunya hingga bisa seperti sekarang ini.


Aku sangat tergugah dengan apa yang beliau sampaikan. “Tapi saya bisa seperti sekarang ini kan harus memulai dari nol dulu, harus mengalami rugi 25 juta dulu, sekarang kalian semua fasilitas sudah tersedia. Sudah ada Rumah Fiqih publishing. Tinggal menulisnya. Ibarat seorang yang masuk hutan, dulu saya benar-benar tak tau arah, harus mencari jalan sendiri, sekarang kalian ke hutan sudah ditemani guide.... fabiayyi aalai robbikuma tukadziban..Jadi, ayo menulislah”. Itu kata terakhir yang beliau ucapkan sebelum menutup pembicaraan siang tadi.


So, ayo menulis lagi. Asah pisau yang hampir tumpul itu agar kembali tajam. Isi liburan ini dengan melatih tangan menulis lagi.

Bismillah...

1 comment: