fiqh

Saturday, November 30, 2013

Pesona Fisik vs Pesona Jiwa

(Belajar dari kekurangan eps.1)

Pesona Fisik vs Pesona Jiwa

﴿لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم﴾ التين:4
“sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At tin:4).

Ayat diatas secara jelas mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Allah memberi kita dua mata yang dengannya kita bisa melihat. Allah beri kita dua tangan yang dengannya kita bisa bisa menulis. Dua kaki yang dengannya kita bisa berjalan shalat berjamaah di masjid, bisa menghadiri majlis ilmu, juga dua telinga yang dengannya kita bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al qur’an dari Syeikh Al Ghamidi (saya tuliskan satu syeikh, karena beliau adalah qori favorit saya, he).

Sungguh itu merupakan nikmat yang tiada terkira. Bayangkan kalau kita tak punya tangan, kaki, atau mata. Dunia akan terasa begitu gelap, tak mungkin bisa kita menikmati pemandangan-pemandangan indah yang Allah ciptakan.

Namun tidak sedikit dari manusia yang kurang bersyukur bahkan tak puas dengan apa yang diberikan Allah pada dirinya. Karena dia punya hidung yang tak sepanjang hidung-hidung orang barat, dia operasi plastik untuk di mancungin, karena matanya tak seindah mata-mata orang timur sana maka ia rubah mata itu.
Bahkan ia rela merogoh kantong lebih dalam hanya untuk memperindah bagian tubuh yang padahal dengan bentuk yang Allah ciptakan, ia tetap bisa bernafas, ia tetap bisa melihat.

Apakah kecantikan dan ketampanan itu menunjukkan tingkat iman seseorang? Yang lebih cantik berarti lebih beriman, yang lebih tampan itu lebih beriman? Tidak.
Bahkan Rasul sendiri telah bersabda:

 «إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قلوبكم وأعمالكم» أخرجه مسلم 2564
“sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kamu, akan tetapi Allah melihat hati dan amal-amalan mu” (Shahih Muslim 2564).

Juga,  ﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات: 13]
 “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa”  (Al Hujurat 10). (bukan yang paling tampan atau cantik kan?)

Kecantikan atau ketampanan fisik tidaklah bersifat kekal, namun hanyalah bersifat sementara dan berjangka. Mungkin saat ini kita melihat artis Hollywood seperti tom cruise, brad pitt terlihat sangat tampan, tapi setelah 10 tahun lagi apakah predikat itu tetap sama? Ketika dia sudah kakek-kakek, masih terlihat tampankah dia?

Keindahan fisik akan memudar seiring bertambahnya usia. Untuk yang Allah beri fisik tak seindah artis-artis itu, okelah kita sebut itu sebagai kekurangan. Tapi jangan lantas kita kecewa dengan apa yang diberiNYA dan kemudian berusaha merubahnya.

Lalu?

Bersyukur adalah solusi nomer wahid. Kata Allah “la in syakartum, la azidannakum, wa la in kafartum, inna ‘adzabi lasyadiid”  

Yang kedua adalah berusaha menambal kekurangan dengan potensi lain yang dimiliki.
Inilah yang sering terlupakan oleh sebagian orang. Ia sering lupa akan kemampuan diri. Ia tidak menyadari bahwa dirinya itu punya potensi. Gali terus potensi yang ada dengan terus BELAJAR.

Belajar. Belajar adalah proses manusia mencari sebuah kebenaran, mencari sebuah jawaban. Dan dengannya otomatis meningkatkah tingkat intelektualitasnya.
Layaknya pisau yang terus diasah dia akan semakin tajam. Begitupun otak. Semakin sering kita ajak dia belajar, berpikir, berdiskusi maka semakin tajam pula ia.

Keilmuan seseorang itulah yang disebut pesona jiwa (inner beauty/handsome). Seseorang dengan ilmu dan wawasan yang luas akan lebih menarik sekitarnya dibanding pesona fisik. Dan pesona jiwa itulah yang justru bersifat tahan lama berbanding terbalik dengan pesona fisik. Dan semakin tinggi ilmu seseorang, semakin matang pula tingkat berpikir dan kepribadiannya dan akhlaknya. Semakin bertambahlah pesona jiwanya. Sedangkan semakin bertambah umur seseorang semakin pudarlah pesona fisiknya.

Sampai disini, manakah yang akan kita pilih? Pesona fisik atau pesona jiwa kah?


it's just opinion.. ^_^


(tulisan ini terinspirasi dari apa yang disampaikan salah satu pengajar saya di Rumah Fiqih, usai membahas tentang Imam Ahmad beberapa pekan lalu)



Monday, November 11, 2013

Karena Adil Tak Selalu Sama


Dewasa ini, sudah menjadi hal yang biasa ketika seorang wanita bekerja, dan beraktifitas layaknya pria. Bekerja di kantor, di perusahaan ataupun profesi lainnya.

Dan dengan hal yang dipandang biasa itulah, muncul statement “seorang wanita juga punya hak seperti pria, namun kenapa seolah islam membedakannya, malah seolah kedudukan wanita itu selalu dibawah pria, sebagai contoh dalam hal warisan”.

Bagaimana kita menjawab statement tersebut?

Firman Allah yang terdapat dalam surah An nisa 176

.....فاللذكر مثل حظ الأنثيين...
“….maka bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang perempuan…”

Ya, ayat tersebut menjadi hujjah mereka.
Namun,

أأنتم أعلم أم الله........
“….kamukah yang lebih tau, atau Allah?....” (an nisa 140)

Ketika Allah menurunkan suatu ayat, pasti terdapat sisi kebaikan yang terkandung didalamnya dan terkadang kitalah yang belum bisa memahami.  Dan ayat tersebut, mengapa Allah menjadikan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan, ada banyak faktor, diantaranya :

1.       Seorang laki-laki ketika dia menikah, dia harus memberi mahar pada istri.
2.       Ketika dia telah berkeluarga, dia berkewajiban untuk menafkahi keluarga.

Bukankah itu sudah menjadi bukti bahwa islam tidaklah menjadikan kedudukan wanita dibawah pria. Justru sebaliknya, Islam begitu memuliakan wanita,memuliakannya dengan diberikannya mahar ketika menikah, menjadikannya “ratu” dalam rumah tangga, dia tak harus bersusah payah mencari uang karena suaminya lah yang berkewajiban untuk itu.

Adilkah kita, ketika memberi uang kepada adik kita misalnya, yang masih TK dengan nominal yang sama dengan adik kita yang duduk dibangku SMP? Tentu tidak, karena tentunya kebutuhannya pun berbeda, anak SMP mempunyai kebutuhan yang jauh lebih banyak dibanding TK, dan harus kita lihat sisi maslahah pada keduanya.

Hal yang harus selalu kita ingat, bahwa yang namanya ADIL itu TAK harus SAMA. Tapi adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempat dan kapasitasnya.

Sungguh Allah maha Adil, tiada yang mampu menandingi keadilanNYA

Wallahu a’lam bishshawab..

.