(Belajar dari kekurangan eps.1)
Pesona Fisik vs Pesona Jiwa
﴿لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم﴾ التين:4
“sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.” (QS At tin:4).
Ayat diatas secara jelas mengatakan bahwa manusia diciptakan
Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Allah memberi kita
dua mata yang dengannya kita bisa melihat. Allah beri kita dua tangan yang dengannya
kita bisa bisa menulis. Dua kaki yang dengannya kita bisa berjalan shalat
berjamaah di masjid, bisa menghadiri majlis ilmu, juga dua telinga yang
dengannya kita bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al qur’an dari Syeikh
Al Ghamidi (saya tuliskan satu syeikh, karena beliau adalah qori favorit saya,
he).
Sungguh itu merupakan nikmat yang tiada terkira. Bayangkan
kalau kita tak punya tangan, kaki, atau mata. Dunia akan terasa begitu gelap,
tak mungkin bisa kita menikmati pemandangan-pemandangan indah yang Allah
ciptakan.
Namun tidak sedikit dari manusia yang kurang bersyukur
bahkan tak puas dengan apa yang diberikan Allah pada dirinya. Karena dia punya
hidung yang tak sepanjang hidung-hidung orang barat, dia operasi plastik untuk
di mancungin, karena matanya tak seindah mata-mata orang timur sana maka ia
rubah mata itu.
Bahkan ia rela merogoh kantong lebih dalam hanya untuk
memperindah bagian tubuh yang padahal dengan bentuk yang Allah ciptakan, ia
tetap bisa bernafas, ia tetap bisa melihat.
Apakah kecantikan dan ketampanan itu menunjukkan tingkat
iman seseorang? Yang lebih cantik berarti lebih beriman, yang lebih tampan itu
lebih beriman? Tidak.
Bahkan Rasul sendiri telah bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَأَمْوَالِكُمْ،
وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قلوبكم وأعمالكم» أخرجه مسلم 2564
“sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kamu, akan
tetapi Allah melihat hati dan amal-amalan mu” (Shahih Muslim 2564).
Juga, ﴿إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾
[الحجرات: 13]
“sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa” (Al Hujurat 10). (bukan yang paling tampan atau
cantik kan?)
Kecantikan atau ketampanan fisik tidaklah bersifat kekal, namun
hanyalah bersifat sementara dan berjangka. Mungkin saat ini kita melihat artis
Hollywood seperti tom cruise, brad pitt terlihat sangat tampan, tapi setelah 10
tahun lagi apakah predikat itu tetap sama? Ketika dia sudah kakek-kakek, masih
terlihat tampankah dia?
Keindahan fisik akan memudar seiring bertambahnya usia.
Untuk yang Allah beri fisik tak seindah artis-artis itu, okelah kita sebut itu
sebagai kekurangan. Tapi jangan lantas kita kecewa dengan apa yang diberiNYA
dan kemudian berusaha merubahnya.
Lalu?
Bersyukur adalah solusi nomer wahid. Kata Allah “la in
syakartum, la azidannakum, wa la in kafartum, inna ‘adzabi lasyadiid”
Yang kedua adalah berusaha menambal kekurangan dengan
potensi lain yang dimiliki.
Inilah yang sering terlupakan oleh sebagian orang. Ia sering
lupa akan kemampuan diri. Ia tidak menyadari bahwa dirinya itu punya potensi.
Gali terus potensi yang ada dengan terus BELAJAR.
Belajar. Belajar adalah proses manusia mencari sebuah
kebenaran, mencari sebuah jawaban. Dan dengannya otomatis meningkatkah tingkat
intelektualitasnya.
Layaknya pisau yang terus diasah dia akan semakin tajam.
Begitupun otak. Semakin sering kita ajak dia belajar, berpikir, berdiskusi maka
semakin tajam pula ia.
Keilmuan seseorang itulah yang disebut pesona jiwa (inner
beauty/handsome). Seseorang dengan ilmu dan wawasan yang luas akan lebih
menarik sekitarnya dibanding pesona fisik. Dan pesona jiwa itulah yang justru
bersifat tahan lama berbanding terbalik dengan pesona fisik. Dan semakin tinggi
ilmu seseorang, semakin matang pula tingkat berpikir dan kepribadiannya dan
akhlaknya. Semakin bertambahlah pesona jiwanya. Sedangkan semakin bertambah
umur seseorang semakin pudarlah pesona fisiknya.
Sampai disini, manakah yang akan kita pilih? Pesona fisik
atau pesona jiwa kah?
(tulisan ini terinspirasi dari apa yang disampaikan salah satu pengajar saya di Rumah Fiqih, usai membahas tentang Imam Ahmad beberapa pekan lalu)
it's just opinion.. ^_^
(tulisan ini terinspirasi dari apa yang disampaikan salah satu pengajar saya di Rumah Fiqih, usai membahas tentang Imam Ahmad beberapa pekan lalu)
No comments:
Post a Comment