fiqh

Monday, December 16, 2013

Guru, Orang Tua, Anak = Tak terpisahkan

usai mengajar tadi sore, salah satu wali murid menghampiri saya,

“kak do’a-do’a apa aja yang buat ujian rabu besok, bisa minta catatin gak, biar farel bisa belajar dirumah?” tanyanya.

“owh, bentar saya copyin”, jawabku.

“tadi farel bisa gak kak?”, tanyanya lagi.

“bisa kok bu, lancar”, jawabku tersenyum.

Ya, dia adalah ibu dari salah satu murid saya, farel. Yang masih duduk dikelas 1 SD, tapi bacaan ngajinya sudah melebihi teman-teman yang kelas 3. bagi saya itu adalah hal yang membahagiakan. ketika ada orang tua yang memperhatikan anaknya terutama belajarnya. Karena banyak dari wali murid yang acuh tak acuh. Tak pernah menanyakan gimana anaknya, perkembangan belajarnya. Sehingga si anak pun sering merasa susah ketika suruh baca materi yang kemarin disampaikan karena dirumah tak pernah diulang. 

berbeda dengan orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya, maka dia akan menanyakan ada PR kah? Gimana tadi sekolahnya? Bisa apa gak? Jika ada yang susah maka dia mengajarinya, jika tau waktunya ujian dia menyuruh anaknya belajar. Ketika anaknya malas berangkat, orang tua mengingatkannya. Dan begitulah seyogyanya.

Karena suksesnya seorang anak tidak mutlak dari pihak guru. Tapi orang tua lah yang lebih besar perannya. Guru hanya memfasilitasi. Menyampaikan ilmu. Selebihnya dirumah anak lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Maka sangat disayangkan ketika ada seorang anak yang gagal ujian atau nilainya jelek kemudian si orang tua justru menyalahkan gurunya.

Harus ada kerja sama antara orang tua dan guru. Dan itulah yang selalu disampaikan ketika ada pertemuan wali murid.

Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang menjadi wasilah kesuksesan anak kita. amin.

1 comment:

  1. sangat menginpirasi,, terutama bagi saya yang sudah jadi bapak.

    ReplyDelete