Sepertinya
istilah “mengantre” sudah sangat akrab di telinga kita. Terutama daerah Jakarta
yang semuanya seakan tak afdhol kalau tak “antre”. Dimana-mana kita lihat tempat-tempat
penuh dengan antrean manusia.
Mulai
dari beli sayur di pedagang keliling sampai menunggu bayar belanjaan di kasir mall.
Mulai
dari antri bikin ktp di kelurahan sampai bikin rekening di bank.
Hal
seperti itu sudah menjadi santapan lezat sehari-hari. Tapi hal yang kadang
terlupakan adalah bahwa dalam “mengantre” itu terkandung pelajaran yang sangat
berharga.
Kemarin
saya mendapat inbox dari teman tentang pelajaran dibalik “mengantre” . Bermula
dari kekecewaan saya ketika memasuki kantin kampus. Ya, kantin yang merupakan tujuan
favorit mahasiswa kampus kami kala bel istirahat terdengar di seantero kelas.
Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.
Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.
Oke
kembali ke “antre” tadi.
Sampai
di depan kantin, tampak dari luar sudah banyak orang memenuhi kantin. Seperti
biasa langung ku masuk antrean. Sembari menunggu giliran, beberapa kali kulirik
jam, waktu sudah lewat 10 menit. Oh perut, sabar ya. Sambil mengobrol dengan
teman dibelakang, tiba-tiba kulihat segerombol orang menerobos masuk kedepan. Kemudian
memanggil mba pelayan. Mungkin merasa suaranya tak didengar maka ia memanggil
setengah berteriak supaya dilayani. (Sama sekali tidak bermaksud ghibah, hanya sebagai reminder aja).
Kemudian
datang beberapa orang lagi dengan tingkah yang sama. Mungkin, seakan di dunia ini
hanya merekalah penghuninya. Maklum, kalo lagi laper terkadang gampang emosi.
“gak
bisa dibiarin nih”, ucapku pada temanku. Ku tegur salah satu dari mereka untuk
masuk ke antrean. Tak dihiraukan sama sekali.
Kalau dilihat sih sepertinya
anak-anak baru. Ya maklumlah mungkin mereka terbiasa dirumah ketika makan langsung
ambil tak pernah ada istilah mengantre. Jadi belum terbiasa dengan budaya
seperti ini. But, come on, kita disini sama. Sama-sama laper. Sama-sama pengen
cepet biar gak telat. Si temanku masih betah dalam antrean yang mendadak
semrawut itu. Dan aku? Kuputuskan tuk keluar dan menahan semua. Menahan emosi,
nahan laper. Oh dunia kala itu sungguh terasa bikin aku “nyesek”.
Aku
berjalan menuju kursi dimana salah satu temanku duduk. Langsung ku mengajaknya
keluar. Heran dengan sikapku, langsung kujelaskan apa yang barusan terjadi. Kulihat waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Kuurungkan
niatku tuk makan. Dan kami pun kembali ke kelas dengan perut kosong.
Usai
kuliah. Kubergegas menuju kosan. Saat kuhidupkan laptop, cek inbox ternyata ada
pesan masuk. Temanku pengirimnya. Isinya sangat cocok dengan apa yang kualami
barusan. Tentang arti penting dari sebuah “mengantre”. Yang terkadang sering
kita lupa.
Saya
tak tau pasti sumbernya, setelah saya gugling
ternyata asal tulisan itu adalah dari Australia sana. Yang pasti isi dari tulisan
itu adalah kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa dirinya tak cemas jika
anak didiknya tak pandai matematika. Namun justru ia sangat cemas ketika mereka
tak pandai mengantre.
Ditanya
kenapa, dengan penuh keyakinan sang guru menjawab :” cukup
sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Namun untuk pandai
mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu waktu bertahun-tahun”.
Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak
didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali
keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya
itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre)
sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian
nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre. Disini saya
hanya tuliskan beberapa poin yang saya anggap poin amat penting.
Pertama adalah seseorang akan belajar manajemen waktu,
jika ia tak mau masuk dalam antrian panjang, maka ia harus datang lebih awal
(tapi tidak dengan keluar kelas sebelum bel istirahat ya, J ).
Kedua, seseorang belajar untuk bersabar. Karena dalam
mengantre sikap sabarlah yang berperan utama. Terutama jika ia berada di
antrean paling belakang.
Ketiga, seseorang belajar menghormati hak orang
lain. Bahwa yang datang dulu dialah yang lebih berhak. Ini yang perlu digaris
bawahi.
Keempat, seseorang belajar kreatif. Memikirkan
kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama
mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre).
Kelima, seseorang belajar tabah dalam proses
mencapai tujuannya.
Keenam, seseorang belajar hukum sebab akibat. Seperti
poin ketiga.
Ketujuh, seseorang belajar keteraturan dalam
hidup.
Begitu banyak nilai-nilai moral yang dapat kita
ambil dari sebuah aktifitas “mengantre”. Indah nan damai sekali ketika semua
saling menyadari akan hal itu. Sederhananya, “bebek aja ngantri, masa kita
enggak”, perumpamaan itulah yang sering dipakai masyarakat kita. ^_^
Semoga bermanfaat. @nisaandromeda

.jpg)


