fiqh

Monday, December 23, 2013

AADM (Ada Apa Dengan Mengantre)...

Sepertinya istilah “mengantre” sudah sangat akrab di telinga kita. Terutama daerah Jakarta yang semuanya seakan tak afdhol kalau tak “antre”. Dimana-mana kita lihat tempat-tempat penuh dengan antrean manusia.

Mulai dari beli sayur di pedagang keliling sampai menunggu bayar belanjaan di kasir mall.
Mulai dari antri bikin ktp di kelurahan sampai bikin rekening di bank.

Hal seperti itu sudah menjadi santapan lezat sehari-hari. Tapi hal yang kadang terlupakan adalah bahwa dalam “mengantre” itu terkandung pelajaran yang sangat berharga.

Kemarin saya mendapat inbox dari teman tentang pelajaran dibalik “mengantre” . Bermula dari kekecewaan saya ketika memasuki kantin kampus. Ya, kantin yang merupakan tujuan favorit mahasiswa kampus kami kala bel istirahat terdengar di seantero kelas. 

Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.

Oke kembali ke “antre” tadi.

Sampai di depan kantin, tampak dari luar sudah banyak orang memenuhi kantin. Seperti biasa langung ku masuk antrean. Sembari menunggu giliran, beberapa kali kulirik jam, waktu sudah lewat 10 menit. Oh perut, sabar ya. Sambil mengobrol dengan teman dibelakang, tiba-tiba kulihat segerombol orang menerobos masuk kedepan. Kemudian memanggil mba pelayan. Mungkin merasa suaranya tak didengar maka ia memanggil setengah berteriak supaya dilayani. (Sama sekali tidak bermaksud ghibah, hanya sebagai reminder aja).

Kemudian datang beberapa orang lagi dengan tingkah yang sama. Mungkin, seakan di dunia ini hanya merekalah penghuninya. Maklum, kalo lagi laper terkadang gampang emosi.
gak bisa dibiarin nih”, ucapku pada temanku. Ku tegur salah satu dari mereka untuk masuk ke antrean. Tak dihiraukan sama sekali. 

Kalau dilihat sih sepertinya anak-anak baru. Ya maklumlah mungkin mereka terbiasa dirumah ketika makan langsung ambil tak pernah ada istilah mengantre. Jadi belum terbiasa dengan budaya seperti ini. But, come on, kita disini sama. Sama-sama laper. Sama-sama pengen cepet biar gak telat. Si temanku masih betah dalam antrean yang mendadak semrawut itu. Dan aku? Kuputuskan tuk keluar dan menahan semua. Menahan emosi, nahan laper. Oh dunia kala itu sungguh terasa bikin aku “nyesek”.

Aku berjalan menuju kursi dimana salah satu temanku duduk. Langsung ku mengajaknya keluar. Heran dengan sikapku, langsung kujelaskan apa yang barusan terjadi. Kulihat waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Kuurungkan niatku tuk makan. Dan kami pun kembali ke kelas dengan perut kosong.

Usai kuliah. Kubergegas menuju kosan. Saat kuhidupkan laptop, cek inbox ternyata ada pesan masuk. Temanku pengirimnya. Isinya sangat cocok dengan apa yang kualami barusan. Tentang arti penting dari sebuah “mengantre”. Yang terkadang sering kita lupa.

Saya tak tau pasti sumbernya,  setelah saya gugling ternyata asal tulisan itu adalah dari Australia sana. Yang pasti isi dari tulisan itu adalah kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa dirinya tak cemas jika anak didiknya tak pandai matematika. Namun justru ia sangat cemas ketika mereka tak pandai mengantre.

Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan sang guru menjawab :” cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Namun untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu waktu bertahun-tahun”.

Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre. Disini saya hanya tuliskan beberapa poin yang saya anggap poin amat penting.

Pertama adalah seseorang akan belajar manajemen waktu, jika ia tak mau masuk dalam antrian panjang, maka ia harus datang lebih awal (tapi tidak dengan keluar kelas sebelum bel istirahat ya, J ).

Kedua, seseorang belajar untuk bersabar. Karena dalam mengantre sikap sabarlah yang berperan utama. Terutama jika ia berada di antrean paling belakang.

Ketiga, seseorang belajar menghormati hak orang lain. Bahwa yang datang dulu dialah yang lebih berhak. Ini yang perlu digaris bawahi.

Keempat, seseorang belajar kreatif. Memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre).

Kelima, seseorang belajar tabah dalam proses mencapai tujuannya.

Keenam, seseorang belajar hukum sebab akibat. Seperti poin ketiga.

Ketujuh, seseorang belajar keteraturan dalam hidup.

Begitu banyak nilai-nilai moral yang dapat kita ambil dari sebuah aktifitas “mengantre”. Indah nan damai sekali ketika semua saling menyadari akan hal itu. Sederhananya, “bebek aja ngantri, masa kita enggak”, perumpamaan itulah yang sering dipakai masyarakat kita. ^_^

Semoga bermanfaat. @nisaandromeda



Monday, December 16, 2013

Guru, Orang Tua, Anak = Tak terpisahkan

usai mengajar tadi sore, salah satu wali murid menghampiri saya,

“kak do’a-do’a apa aja yang buat ujian rabu besok, bisa minta catatin gak, biar farel bisa belajar dirumah?” tanyanya.

“owh, bentar saya copyin”, jawabku.

“tadi farel bisa gak kak?”, tanyanya lagi.

“bisa kok bu, lancar”, jawabku tersenyum.

Ya, dia adalah ibu dari salah satu murid saya, farel. Yang masih duduk dikelas 1 SD, tapi bacaan ngajinya sudah melebihi teman-teman yang kelas 3. bagi saya itu adalah hal yang membahagiakan. ketika ada orang tua yang memperhatikan anaknya terutama belajarnya. Karena banyak dari wali murid yang acuh tak acuh. Tak pernah menanyakan gimana anaknya, perkembangan belajarnya. Sehingga si anak pun sering merasa susah ketika suruh baca materi yang kemarin disampaikan karena dirumah tak pernah diulang. 

berbeda dengan orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya, maka dia akan menanyakan ada PR kah? Gimana tadi sekolahnya? Bisa apa gak? Jika ada yang susah maka dia mengajarinya, jika tau waktunya ujian dia menyuruh anaknya belajar. Ketika anaknya malas berangkat, orang tua mengingatkannya. Dan begitulah seyogyanya.

Karena suksesnya seorang anak tidak mutlak dari pihak guru. Tapi orang tua lah yang lebih besar perannya. Guru hanya memfasilitasi. Menyampaikan ilmu. Selebihnya dirumah anak lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Maka sangat disayangkan ketika ada seorang anak yang gagal ujian atau nilainya jelek kemudian si orang tua justru menyalahkan gurunya.

Harus ada kerja sama antara orang tua dan guru. Dan itulah yang selalu disampaikan ketika ada pertemuan wali murid.

Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang menjadi wasilah kesuksesan anak kita. amin.

Friday, December 13, 2013

Ibnu Umar, Pecinta Rasul


Siapa yang tak kenal Ibnu Umar. Beliau adalah Abdullah bin Umar, anak dari amirul mukminin, Umar bin Khattab. Namun lebih dikenal dengan nama Ibnu Umar. Karena pada waktu itu ada banyak nama Abdullah, seperti Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Mas'ud, dll.

Beliau adalah perawi hadits dan juga sahabat yang dikenal sangat sering bermulazamah dengan Rasulullah.
Tak ada sahabat Rasul yang tidak cinta kepada Rasul. Mereka menunjukkan kecintaannya dengan menjalankan sunnah-sunnahnya. Begitu pun Ibnu Umar. Bahkan saking cintanya, pada Rasul, dia tidak hanya mengikuti perintah dan sunnah-sunnahnya, tapi juga sampai hal terkecil yang bahkan sahabat lain tidak melakukannya.

Pernah suatu hari Ibnu Umar melihat Rasulullah berjalan di suatu tempat, dan ketika melewati sebuah pohon, Rasul berjalan memutari pohon tersebut. Besoknya pun begitu.

Dan ketika Rasulullah telah wafat, suatu hari Ibnu Umar berjalan dengan sahabat yang lain, dan melewati tempat dimana dulu Rasul selalu memutari pohon disitu. ketika itu, pohon itu telah ditebang dan sudah tak ada bekasnya. Namun beliau masih sangat ingat tempatnya.

Ibnu Umar tiba-tiba berjalan memutari tempat dimana pohon itu dulu tumbuh.
Para sahabat bertanya,"wahai ibnu umar, apa yang kau lakukan..?".
"dulu disini ada sebuah pohon, dan tiap Rasul lewat ditempat ini, beliau berjalan memutari pohon itu", jawab Ibnu Umar.

bayangkan, saking cintanya kepada Rasul bahkan hal-hal yang sekecil itu  pun diikuti. Padahal itu kan bukan sunnah. Namun Ibnu Umar pun mengikutinya, sebagai bentuk cintanya pada Rasul.

والآن، أين نحن منهم؟

sudahkah kita mengikuti sunnah-sunnahnya?
bahkan, hal-hal yang wajib pun sering kita tinggalkan. Pantaskah kita disebut Umat yang mencintainya?
wallahu a'lam bishshawab.. ^_^

Saturday, November 30, 2013

Pesona Fisik vs Pesona Jiwa

(Belajar dari kekurangan eps.1)

Pesona Fisik vs Pesona Jiwa

﴿لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم﴾ التين:4
“sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At tin:4).

Ayat diatas secara jelas mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Allah memberi kita dua mata yang dengannya kita bisa melihat. Allah beri kita dua tangan yang dengannya kita bisa bisa menulis. Dua kaki yang dengannya kita bisa berjalan shalat berjamaah di masjid, bisa menghadiri majlis ilmu, juga dua telinga yang dengannya kita bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al qur’an dari Syeikh Al Ghamidi (saya tuliskan satu syeikh, karena beliau adalah qori favorit saya, he).

Sungguh itu merupakan nikmat yang tiada terkira. Bayangkan kalau kita tak punya tangan, kaki, atau mata. Dunia akan terasa begitu gelap, tak mungkin bisa kita menikmati pemandangan-pemandangan indah yang Allah ciptakan.

Namun tidak sedikit dari manusia yang kurang bersyukur bahkan tak puas dengan apa yang diberikan Allah pada dirinya. Karena dia punya hidung yang tak sepanjang hidung-hidung orang barat, dia operasi plastik untuk di mancungin, karena matanya tak seindah mata-mata orang timur sana maka ia rubah mata itu.
Bahkan ia rela merogoh kantong lebih dalam hanya untuk memperindah bagian tubuh yang padahal dengan bentuk yang Allah ciptakan, ia tetap bisa bernafas, ia tetap bisa melihat.

Apakah kecantikan dan ketampanan itu menunjukkan tingkat iman seseorang? Yang lebih cantik berarti lebih beriman, yang lebih tampan itu lebih beriman? Tidak.
Bahkan Rasul sendiri telah bersabda:

 «إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قلوبكم وأعمالكم» أخرجه مسلم 2564
“sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kamu, akan tetapi Allah melihat hati dan amal-amalan mu” (Shahih Muslim 2564).

Juga,  ﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات: 13]
 “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa”  (Al Hujurat 10). (bukan yang paling tampan atau cantik kan?)

Kecantikan atau ketampanan fisik tidaklah bersifat kekal, namun hanyalah bersifat sementara dan berjangka. Mungkin saat ini kita melihat artis Hollywood seperti tom cruise, brad pitt terlihat sangat tampan, tapi setelah 10 tahun lagi apakah predikat itu tetap sama? Ketika dia sudah kakek-kakek, masih terlihat tampankah dia?

Keindahan fisik akan memudar seiring bertambahnya usia. Untuk yang Allah beri fisik tak seindah artis-artis itu, okelah kita sebut itu sebagai kekurangan. Tapi jangan lantas kita kecewa dengan apa yang diberiNYA dan kemudian berusaha merubahnya.

Lalu?

Bersyukur adalah solusi nomer wahid. Kata Allah “la in syakartum, la azidannakum, wa la in kafartum, inna ‘adzabi lasyadiid”  

Yang kedua adalah berusaha menambal kekurangan dengan potensi lain yang dimiliki.
Inilah yang sering terlupakan oleh sebagian orang. Ia sering lupa akan kemampuan diri. Ia tidak menyadari bahwa dirinya itu punya potensi. Gali terus potensi yang ada dengan terus BELAJAR.

Belajar. Belajar adalah proses manusia mencari sebuah kebenaran, mencari sebuah jawaban. Dan dengannya otomatis meningkatkah tingkat intelektualitasnya.
Layaknya pisau yang terus diasah dia akan semakin tajam. Begitupun otak. Semakin sering kita ajak dia belajar, berpikir, berdiskusi maka semakin tajam pula ia.

Keilmuan seseorang itulah yang disebut pesona jiwa (inner beauty/handsome). Seseorang dengan ilmu dan wawasan yang luas akan lebih menarik sekitarnya dibanding pesona fisik. Dan pesona jiwa itulah yang justru bersifat tahan lama berbanding terbalik dengan pesona fisik. Dan semakin tinggi ilmu seseorang, semakin matang pula tingkat berpikir dan kepribadiannya dan akhlaknya. Semakin bertambahlah pesona jiwanya. Sedangkan semakin bertambah umur seseorang semakin pudarlah pesona fisiknya.

Sampai disini, manakah yang akan kita pilih? Pesona fisik atau pesona jiwa kah?


it's just opinion.. ^_^


(tulisan ini terinspirasi dari apa yang disampaikan salah satu pengajar saya di Rumah Fiqih, usai membahas tentang Imam Ahmad beberapa pekan lalu)



Monday, November 11, 2013

Karena Adil Tak Selalu Sama


Dewasa ini, sudah menjadi hal yang biasa ketika seorang wanita bekerja, dan beraktifitas layaknya pria. Bekerja di kantor, di perusahaan ataupun profesi lainnya.

Dan dengan hal yang dipandang biasa itulah, muncul statement “seorang wanita juga punya hak seperti pria, namun kenapa seolah islam membedakannya, malah seolah kedudukan wanita itu selalu dibawah pria, sebagai contoh dalam hal warisan”.

Bagaimana kita menjawab statement tersebut?

Firman Allah yang terdapat dalam surah An nisa 176

.....فاللذكر مثل حظ الأنثيين...
“….maka bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang perempuan…”

Ya, ayat tersebut menjadi hujjah mereka.
Namun,

أأنتم أعلم أم الله........
“….kamukah yang lebih tau, atau Allah?....” (an nisa 140)

Ketika Allah menurunkan suatu ayat, pasti terdapat sisi kebaikan yang terkandung didalamnya dan terkadang kitalah yang belum bisa memahami.  Dan ayat tersebut, mengapa Allah menjadikan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan, ada banyak faktor, diantaranya :

1.       Seorang laki-laki ketika dia menikah, dia harus memberi mahar pada istri.
2.       Ketika dia telah berkeluarga, dia berkewajiban untuk menafkahi keluarga.

Bukankah itu sudah menjadi bukti bahwa islam tidaklah menjadikan kedudukan wanita dibawah pria. Justru sebaliknya, Islam begitu memuliakan wanita,memuliakannya dengan diberikannya mahar ketika menikah, menjadikannya “ratu” dalam rumah tangga, dia tak harus bersusah payah mencari uang karena suaminya lah yang berkewajiban untuk itu.

Adilkah kita, ketika memberi uang kepada adik kita misalnya, yang masih TK dengan nominal yang sama dengan adik kita yang duduk dibangku SMP? Tentu tidak, karena tentunya kebutuhannya pun berbeda, anak SMP mempunyai kebutuhan yang jauh lebih banyak dibanding TK, dan harus kita lihat sisi maslahah pada keduanya.

Hal yang harus selalu kita ingat, bahwa yang namanya ADIL itu TAK harus SAMA. Tapi adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempat dan kapasitasnya.

Sungguh Allah maha Adil, tiada yang mampu menandingi keadilanNYA

Wallahu a’lam bishshawab..

.

Wednesday, October 16, 2013

Baca dan baca

Baca dan baca, karena seorang penulis itu bermula dari seorang pembaca.

Buat saya, membaca adalah hal yang sangat asik. Saya mampu menemukan hal-hal baru dari tiap kata yang saya baca. Ilmu baru, wawasan baru, dan yang terpenting inspirasi baru.

Dan Allah sendiri telah menurunkan wahyu pertama dengan kata " iqra' " yang artinya bacalah. Ya, Allah lah Sang Motivator Pertama. Dia sendiri yang langsung menyuruh manusia paling mulia di muka bumi ini untuk membaca, dan kita sebagai umat yang khoiru ummah sudah seyogyanya mengikuti jejak beliau.

Baca dan baca, maka kita kan bisa menulis juga.
Apa hubungannya?

Coba deh kita flash back sebentar, dulu saat kita duduk dibangku TK, saat kita belum bisa apa-apa, sang guru mengajari kita menulis dan membaca. 
Kenapa tidak menulis saja? atau membaca saja?
Karena keduanya takkan bisa terpisahkan. Saya teringat perkataan Salah seorang sahabat yang sekaligus menantu Rasulullah Ali bin Abi Thalib, beliau berkata "Ilmu ibarat hewan peliharaan, dan tulisan adalah tali kekangnya, oleh karena itu ikatlah ilmumu dengan menuliskannya".

So, tunggu apalagi?
Baca dari sekarang, nulis dari sekarang.




Friday, October 11, 2013

Keutamaan wudhu sebelum tidur

"Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan. Jika kamu mati didalam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. (HR.Muslim no 2710)

"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya didalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdo'a "Ya Allah ampunilah hambaMU si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (HR.Ibnu Hibban 3/329)






Saturday, August 31, 2013

Suara Hati

Ketika kau ingin melakukan suatu hal, kemudian muncul rasa menentang dalam diri, ketahuilah bahwa apa yang akan kau lakukan saat itu bukanlah yang benar. Karena bukan mulut yang berbicara saat itu, bukan pula mata dan telinga, tapi ia adalah hati.

Hati, yang tak pernah mau tuk memungkiri.
Ia katakan benar jika itu benar.
Ia katakan salah jika itu salah.
Ia katakan suka jika itu suka.
Ia katakan benci jika itu benci.
Dan ia katakan cinta jika itu cinta.

*heart edition_end of august

Monday, July 22, 2013

Cinta itu seperti menunggu bus

“Cinta itu seperti menunggu bus, terkadang bus yang datang bukanlah bus yang kau harapkan, dan saat bus yang kau harapkan datang, akan ada hambatan yang menghalangimu menaikinya, ini terjadi setiap saat”.
(ini adalah kutipan yang saya ambil dari salah satu film thailand yang tengah diputar di ‘bioskop’ sebelah..he).

Kenapa saya menuliskannya disini? karena ketika saya lihat tadi, spontan muncul bola lampu menyala diatas kepala saya dan berbunyi "ting"..he.
kalo dipikir-pikir emang bener kan, dan sepertinya gak perlu ditafshil lagi. Saat bus yang kita tunggu-tunggu datang, semua orang berlari dan berebut untuk menaikinya, dan kita, punya pilihan untuk naik dan berdesak-desakan dengan orang lain atau bersabar sejenak menunggu bus yang lain. Ketika kita tengah terburu-buru dan tak ada waktu lagi maka kita ikut masuk kedalamnya, namun ketika kita masih punya waktu dan tak ada alasan untuk berdesak-desakan kita memilih untuk menunggu bus yang lain karena kita yakin bus yang selanjutnya adalah bus yang memberi kita rasa nyaman selama perjalanan..

so, you have a choice..


Saturday, July 13, 2013

Gadis berwajah chinese itu..

Gadis berwajah chinese itu..

Kuteringat pada gadis berwajah Chinese itu, kala kunaiki bus transjakarta menuju stasiun kota, langsung kuambil tempat duduk yang masih kosong dari penghuninya. Saat kulihat sosok yang tengah duduk didepanku. Ya, gadis berwajah Chinese itu, gadis dengan sweater coklat putih dan celana panjang biru, dengan rambut terikat kebelakang dan poni indah hampir menutupi matanya, layaknya gadis di film-film korea yang sering kulihat, semakin membuatnya terlihat seperti boneka-boneka negri sakura.

Dan saat itu, di halte itu, ditengah sesaknya manusia dalam bus, kulihat ia tiba-tiba berdiri dan mempersilahkan ibu paruh baya yang berdiri didepannya untuk duduk ditempatnya. Dengan sopan ia mempersilahkan sang ibu untuk duduk. Dengan senyum terpancar dari wajahnya, sang ibupun tak ragu-ragu menerima tawaran si gadis Chinese.

Seketika kuterkagum pada sosoknya,

Pada gadis berwajah Chinese itu,

Pada lembut hatinya,

Yang semakin menambah indah parasnya,

Seketika hatiku berbisik, andai wajah dan rambut itu terbalut hijab, pasti kan menambah kagumku padanya. Ya, pada gadis berwajah Chinese itu..

Tiba di halte Kota, kulihat sosok itupun turun dari bus, karena ku tengah terburu-buru, akupun berlari dan melewati sosok itu.

Ya, sosok berwajah Chinese itu..


Friday, June 28, 2013

Mencoba..?? why not…

coba-coba, nyoba, mencoba, sama nggak siyy?
Bahkan, dalam satu kata sendiri mempunyai banyak arti, misalnya:
Ketika cewe tengah berbelanja : Aku mau nyoba baju ini, cocok nggak..??
Berbeda dengan si Thomas yang berkata pada Joe : eh Joe, loe wajib nyoba ini deh, loe pasti bakal ngefly n lupa masalah loe..
Ya, itulah kata.
Indahnya kata, tak terkira.

Back to ‘mencoba’
Terkadang, Ketika kita ingin melakukan hal yang baru, hal yang berbeda dari kebiasaan kita, sering kali muncul rasa takut tuk melakukannya. Entah rasa takut dibilang sok lah, takut hasil yang nggak sempurna lah, takut gagal lah, pokoknya seabrek rasa takut seketika muncul. Ya, itu bukan hal yang aneh lagi, manusiawi lah, lantas ketika ia muncul harus kita ikuti atau justru kita lawan?

Rasa takut yang paling sering muncul adalah takut akan persepsi dan tanggapan orang lain yang tak selaras dengan yang kita harapkan, tapi ya maklum saja, wong baru mencoba sekali. Nanti kalo udah dua, tiga kali juga lama-lama bagus. Jangan hiraukan mereka. Lagian belum tentu kan dia yang tadi mengcomment kita bisa melakukannya lebih dari kita.

Thomas Alva Edison, sang penemu lampu lampu pijar. Kalian semua pasti tahu dia,tapi...Tahukah kalian..berapa kali dia gagal???10 kali?100 kali? 1000? Lebiih sodaraa.. bahkan seorang ilmuwan seperti beliau melakukan percobaan sampai 9.998 kali, dan itupun masih gagal. Namun, ia tak pernah menyerah, tak ada kata putus asa dalam kamus hidupnya. Yang akhirnya pada percobaan yang ke 9.999 kali barulah ia berhasil. Bayangkan kalau dipercobaannya yang ke 9.998 tadi dia menyerah, takkan pernah kita nikmati malam yang terang benderang dengan cahaya lampu disana-sini.

Apalagi kita yang telah terlahir sebagai muslim, Allah sendiri telah berfirman لا تيئسوا من روح الله... (janganlah kalian perputus asa dari Rahmat Allah), bahkan itu Allah sendiri yang bilang, masa iya kita sebagai umatnya gak mau ngikutin. Allah itu beserta prasangka hambaNYA. Kalo kita yakin yang kita lakukan adalah hal yang baik, hal yang mampu membuat kita lebih maju, why not? kenapa harus ada rasa takut?? Segera lawan, karena ia nya datang dari syetan yang akan membuat manusia ragu-ragu dan bimbang dan membuang keyakinan yang ia miliki.

Lakukanlah dan yakinlah kalo kamu bisa, karena sesungguhnya apa yang kita usahakan adalah wujud dari rasa syukur kita terhadap nikmat yang diberikanNYA. Kita menggunakan indera, akal dan pikiran untuk senantiasa berpikir, belajar, membaca, menambah wawasan. bukankah itu wujud dari rasa syukur terhadap nikmatNYA..

wallahu a'lam bishshawwaab..


Ya, mawlaa,,kumpulkanlah kami beserta hamba-hambaMU yang senantisa bersyukur atas nikmatMU..

Koneksi Internet vs Koneksi Sang Pembuat Koneksi

Koneksinya lagi jelek, itulah yang kualami saat ini. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan koneksi internet kita  jadi lelet, setelah browsing inilah beberapa faktor tersebut:
1.       Hardware computer anda tidak mendukung
2.       Modem atau router tidak dikonfigurasi dengan benar
3.       Gangguan pada wireless
4.       Mungkin ada semacam malware/ spyware di computer anda
5.       Memory cache yang terlalu penuh
6.       ISP ( internet service provider), atau sinyal dari masing-masing provider.
7.       Pastikan beberapa quote (quota based)batasan internet anda, jika anda menggunakan internet non unlimited, jika quota habis, umumnya isp menggunakan kebijakan sendiri.
Disini saya mungkin akan membicarakan ttg no 6. S I N Y A L. Pada tempat tertentu terkadang sinyal tertentu tidak dapat tercapai. Seperti saya, baru beberapa hari yang lalu beli perdana paket internet A**S, karena lihat di promonya unlimited, langsung ingin mencoba. karena sebelumnya saya pake T*i, setelah dicoba ternyata dikosan saya tidak masuk sinyal A**S, musykilah banget neh. Karena dilema mau diapain, akhirnya si perdana itu saya biarkan saja terkurung dalam tas. E N O U G H.
Ya, begitu juga manusia, kalau koneksinya buruk dikarenakan sinyalnya lemah juga , entah itu sinyal yang mengarah ke manusia , apalagi sinyal yang mengarah Allah lemah, maka semuanya juga akan berakibat buruk. Koneksi( hubungan)  sesama manusia membuat manusia disebut  makhluk social (makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, seingat saya begitu waktu belajar di SD dulu,hehe). Apa yang akan terjadi kalo koneksi kita dengan orang lain buruk ? contoh gampangnya, karena kosan saya listrik dipakai untuk 3 rumah, kalo tiba2 listrik mati, maka yang paling cepat bertindak adalah yang dekat dengan sumber. Tapi coba kalo koneksi kita dengan tetangga buruk, bisa2 mereka berpikir : “biarian aja mati lampu, tar nungguin org sebelah nyalain aj, cape kan kita mulu.” Hehe. Rugi kan kalo gitu.
Yang paling berbahaya adalah jika koneksi manusia dengan Allah buruk, diakibatkan karena sinyal kita yang lemah, bisa karena jauhnya kita dari sumber (Allah)  atau koneksi kita yang tadinya nyambung tiba-tiba terputus karena kesalahan kita sendiri (ex: maksiat yang kita lakukan tiap harinya) . Akibatnya, belajar jar gak masuk-masuk, (padahal dah mau ujian) , ngapal gak nempel-nempel, trus masalah datang gak kelar-kelar, atau bisa jadi terhalangnya rizki. Lebih rugi bin repot kan.
So, daripada kita sibuk mikirin koneksi internet kita yang lelet, mending kita pikirin koneksi kita dengan DIA, sudah baikkah, ? sudah penuhkah sinyalnya.. ?
otak kiri tiba2 bilang : iman kan naik turun..
tapi otak kanan menjawab : okelah iman naik turun tapi ingat gk kamu, bukankah
 الإيمان يزيد بالطاعة و ينقص بالمعصيةiman itu bertambah karena ketaatan dan berkurang dengan maksiat). So, mari perbaiki amalan-amalan kita, berpikir sebelum berbuat, supaya koneksi kita dengan Sang Pembuat Koneksi tetap stabil dan lancar tanpa hambatan. Tau kan kenapa jalan tol dinamakan jalan tol, pastinya karena jalan yang lancar tanpa hambatan, begitu juga kalau koneksi kita dengan Allah berada di posisi tertinggi, maka semua urusan kita pun akan selalu dilancarkan dan dipermudah.
Belum percaya?
Coba aja, and rasakan atsarnya.. ^_^