teruslah melangkah sampai waktu menghentikanmu...
fiqh
- all in one (2)
- fiqih (1)
- kehidupan (6)
- kisah (2)
- motivation (6)
- muhasabah (1)
- opini (3)
- picture (1)
Friday, May 9, 2014
Saturday, April 26, 2014
Menikahi wanita yang sedang hamil, bolehkah?
A.
Menikahi
wanita hamil karena zina
1. Al-Malikiyah, Al-Hanabilah dan Abu Yusuf (dari kalangan Hanafiyyah)
B. Menikahi wanita hamil yang ditalak suaminya
Fenomena pergaulan bebas akhir-akhir
ini menjadi sumber utama rusaknya akhlak generasi muda. Akibatnya, kasus-kasus
seperti perzinaan pun kerap memenuhi media baik online maupun cetak. Bahkan
terkadang terjadi oleh orang-orang sekitar kita.
Si orang tua harus menanggung malu
akan beban yang diberikan anaknya. Kemudian beban itu semakin berat ketika ditambah
dengan kehamilan. Mending jika si laki-laki mau menikahi si perempuan, namun
yang banyak terjadi justru sebaliknya, mereka lebih memilih untuk berlepas diri
dari si perempuan itu. Disini tidak ada pihak yang paling dirugikan selain
pihak si perempuan..
Wal iyadzubillah.
Wal iyadzubillah.
Terkait masalah ini, para ulama berbeda
pendapat dalam berhukum tentang boleh tidaknya menikahi wanita yang hamil
karena zina.
1. Al-Malikiyah, Al-Hanabilah dan Abu Yusuf (dari kalangan Hanafiyyah)
Menurut pendapat kalangan ini, tidak
boleh hukumnya menikahi wanita yang sedang hamil karena zina kecuali
jika selesai masa iddahnya, baik itu oleh pasangan zinanya sendiri ataupun oleh
orang lain.
Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatka oleh Abu Daud:
لا
تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ
Perempuan
yang hamil tidak dikawini sampai dia melahirkan (HR.Abu Daud)
Juga
dari riwayat Sa’id bin Musayyab:
أن رَجُلا
تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَلَمَّا أَصَابَهَا وَجَدَهَا حُبْلَى فَرَفَعَ ذَلِكَ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا
Bahwasanya
seorang laki-laki pernah menikahi seorang perempuan, dan setelah dinikahi ia
baru mengetahui bahwa dia hamil, kemudian ia mengadukannya pada nabi SAW, maka
nabi SAW memisahkan keduanya.
Kalangan
Al-Hanabilah menambahkan satu syarat lagi, yaitu seorang perempuan itu harus
sudah bertaubat, dan jika ia belum bertaubat maka ia tidak boleh dinikahi oleh
siapapun.
Taubat
seperti apakah yang dimaksud? Taubat yang dimaksud adalah taubat sebagaimana
taubat karena melakukan dosa besar lainnya, yaitu:
- Ikhlas karena Allah
- Menyesali perbuatannya
- Meninggalkan dosa tersebut
- Dan ber-azzam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya
Sedangkan menurut pendapat
kalangan ini, seorang wanita yang hamil karena zina boleh
dinikahi baik itu oleh pasangan zinanya ataupun orang lain. Dengan dalil:
Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah
ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk
menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah.
Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`.
(HR Tabarany dan Daruquthuny).
Namun pada kelompok
Hanafiyyah ada sedikit perbedaan, yaitu jika yang menikahi itu bukan laki-laki
yang berzina dengannya maka dia tidak boleh menggaulinya sampai dia melahirkan.
Pendapat ini didasarkan pada hadits:
من
كان يؤمن بالله واليوم الآخرفلا يسقين ماءه زرع غيره
Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menuangkan (air maninya) pada tanaman
orang lain (HR.Abu Daud)
Akan tetapi jika yang
menikahinya adalah pasangan zinanya maka ia boleh untuk menggaulinya.
Berbeda dengan kelompok Syafiiyah
yang membolehkan untuk menikahinya juga menggaulinya, karena diantara hikmah
dari menikah adalah halalnya farj.
B. Menikahi wanita hamil yang ditalak suaminya
Seorang wanita yang tengah hamil,
kemudian ditalak suaminya, bolehkah dia dinikahi?
Untuk masalah ini, ulama membedakannya
antara wanita hamil yang ditalak raj’i dan yang ditalak bain.
Jika seorang yang hamil itu ditalak raj’i oleh suaminya kemudian
suaminya ingin kembali dengannya maka suami boleh
langsung kembali tanpa harus ada pernikahan. Karena memang status mereka
saat itu masih suami istri.
Namun apabila ditalak bain, kita lihat dulu siapa
yang akan menikahinya, mantan suami kah? Ataukah orang lain? Jika si suami yang
ingin kembali pada istrinya maka ia harus menunggu sampai masa iddah si istri
selesai. Berapa lama masa iddahnya? Dalam kondisi ini seorang perempuan yang
hamil masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan dan sudah menikah lagi dengan
orang lain, baru mantan suami itu boleh menikahi kembali istrinya.
Akan tetapi berbeda jika yang akan
menikahinya itu orang lain, maka dia cukuplah menunggu sampai habis masa
iddahnya, yaitu sampai melahirkan. Hal
ini didasarkan pada ayat:
وَأُولَاتُ
الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
Perempuan-perempuan
yang hamil masa iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan
(QS. At-Thalaq 4)
Alangkah indah aturan Tuhan. Aturan yang
tak pernah ada dalam agama lain. Sungguh apa yang ditentukan Allah adalah yang
terbaik untuk hamba-Nya. Namun manusialah yang kadang tak kuasa tuk bisa
memahami dan berujung pada ber-atur pada keinginan sendiri.
Wallahu a’lam bishshawab.
Sumber:
- Al-Mausu’ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah
- Hasyiyah Ibnu Abdin
- Kassyaf al-Qina’
- Al-Majmu’ syarh Al-muhadzzab
Sunday, March 2, 2014
Belajar dari Ibnu Hurmuz
Beliau
adalah guru dari Imam Malik (pendiri madzhab Maliki). Beliau adalah orang yang sangat tawadhu dan
hati-hati dalam menyampaikan ilmu.
Dalam kitab Jami’ Bayan al Ilmi wa Fadhlih yang ditulis oleh Ibnu Abdil Baar dikisahkan:
bahwasanya dulu ketika Imam Malik ber-guru pada Ibnu Hurmuz dia selalu datang
bersama temannya Abdul Aziz bin Salamah. Dan selain mereka juga ada orang lain
yang ikut datang menimba ilmu kepada Ibnu Hurmuz. Dia adalah Muhammad bin
Ibrahim bin Dinar.
Dikisahkan
bahwa jika Imam Malik dan Abdul Aziz bertanya tentang suatu hal, Ibnu Hurmuz
selalu menjawabnya. Akan tetapi hal yang berbeda jika Ibnu Dinar yang bertanya
justru Ibnu Hurmuz lebih banyak diam dan tak menjawabnya.
Maka
akhirnya Ibnu Dinar datang dan menemui Ibnu Hurmuz.
“wahai
guru, aku ingin bertanya padamu tentang suatu hal yang selama ini ingin
kukatakan.”
“Apakah
itu?” Tanya Ibnu Hurmuz.
“Kenapa
setiap kali Malik dan Abdul Aziz bertanya, guru selalu menjawabnya. Sedangkan jika
kami yang bertanya guru malah diam?”
“Apakah
itu menyakiti hatimu?” Tanya Ibnu Hurmuz.
“Betul
wahai guru,” jawab Ibnu Dinar.
Kemudian
Ibnu Hurmuz menjawab:
“sesungguhnya
aku ini adalah orang yang sudah tua, dan aku takut ke-tua-anku menggerogoti akalku
sebagaimana ia menggerogoti tubuhku, dan sangat mungkin bagiku berbuat
kesalahan”.
“malik
dan Abdul Aziz adalah orang yang pintar dan berilmu, maka jika aku katakan sesuatu
yang benar maka mereka menerimanya, dan jika aku katakana sesuatu yang salah
mereka akan menolak dan tak akan menyampaikannya pada orang lain”.
“Sedangkan
kamu dan teman-temanmu tidaklah seperti mereka. semua yang aku katakan, kamu
terima. Maka aku takut jika aku menjawab dengan jawaban yang salah, engkau terima
dan kemudian menyampaikannya pada orang lain dan itu akan menjadi dosa yang
berlipat bagiku”.
Jawaban
yang sangat indah. Kisah yang sangat inspiratif. Sikap hati-hati dalam menyampaikan ilmu. Apalagi ilmu
syariah. Karena ia bukanlah seperti ilmu yang lainnya. Bahkan ia berhubungan
erat dengan pahala dan dosa.
So, just tell what you believe..
So, just tell what you believe..
Sunday,
2nd march ‘14
@nisaandromeda
Saturday, January 4, 2014
syukur dan kufur
Hari
ini adalah hari ketiga ujian. Diisi dengan materi tauhid. Dari 28 bab materi tauhid semester ini, ada salah satu bab yang
berisi hadits yang begitu menarik buat saya dan mendorong saya untuk
menuliskannya disini. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
Bahwasanya
ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :”sesungguhnya ada tiga orang dari bani
israil : masing-masing mereka itu abrash (berpenyakit kulit), aqra’ (kepalanya botak),
dan a’ma (buta), kemudian Allah ingin menguji mereka, maka Allah mengutus
seorang malaikat.
Datanglah
malaikat itu kepada pemuda pertama, kemudian berkata :
Malaikat
: “apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda
1 : “warna yang bagus, kulit yang bagus, sehingga hilanglah sesuatu yang
menyebabkan orang menjauhiku”
Kemudian
malaikat pun mengusapnya, dan hilanglah darinya penyakitnya, dan diganti dengan
warna dan kulit yang bagus.
Kemudian
malaikat berkata lagi :
Malaikat
: “ harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda
1 : “onta “
Kemudian
diberinya onta betina yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha” ucap
malaikat.
Kemudian
malaikat tadi mendatangi orang yang kedua (aqra’). Kemudian berkata:
Malaikat
: apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda
2 : “rambut yang indah, sehingga hilanglah rasa jijik orang terhadapku”.
Kemudian
malaikat pun mengusapnya dan hilanglah botak itu darinya dan digantinya dengan
rambut yang indah.
Kemudian
malaikat bertanya lagi :
Malaikat
:”harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda 2 : “sapi”.
Kemudian diberinya sapi yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha”,
ucap malaikat.
Kemudian
malaikat tadi mendatangi orang yang ketiga (a’ma). Kemudian berkata :
Malaikat
:”apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda
3 : “aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa kembali
melihat”.
Kemudian malaikat mengusapnya dan Allah mengembalikan penglihatannya.
Malaikat
:”apa harta yang paling kamu senangi?”
Pemuda
3 : “domba”. Kemudian diberinya domba betina yang tengah hamil.
Kemudian
masing-masing dari ketiganya menghasilkan kumpulan onta, kumpulan sapi dan kumpulan
domba.
Beberapa
waktu kemudian, datanglah kembali malaikat itu dengan mewujud sebagai manusia.
Kemudian berkata :
Malaikat
:”aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak ada
harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah memberimu warna kulit
yang indah, aku meminta padamu seekor ba’ir (sejenis onta tapi bukan jenis onta
yang terbaik, namun hanya onta yang sering dipakai untuk bepergian) yang
dengannya aku bisa meneruskan perjalananku”.
Pemuda
1 : “alhuquuqu katsiroh, harta yang kumiliki sekarang ini berkenaan dengan
banyak hak, bukan hanya hakmu saja.
Malaikat
:”sepertinya aku mengenalmu. Bukankah engkau dulu yang punya penyakit kulit
sehingga orang-orang menjauhimu, dan dulu engkau miskin kemudian Allah
memberimu harta?”.
Pemuda
1 :”sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari orang tuaku.”
Kemudian
malaikat berkata :
Malaikat:
“jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.
Kemudian
malaikat mendatangi pemuda yang kedua. Kemudian berkata seperti yang dikatakan
pada pemuda pertama. Dan dia pun menolaknya seperti apa yang dilakukan pemuda
pertama.
Malaikat
:” jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.
Kemudian
malaikat tadi mendatangi pemuda yang ketiga. Dan berkata:
Malaikat
:” aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak
ada harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah mengembalikan
penglihatanmu, aku meminta padamu seekor domba yang dengannya aku bisa
meneruskan perjalananku”.
Pemuda
3 :”sesungguhnya aku dulu buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku;
maka ambillah apa yang kamu sukai dan kamu inginkan. Demi Allah, sesungguhnya
aku tak pernah bersusah payah dengan harta yang engkau ambil ini untuk engkau
pakai di jalan Allah.
Malaikat:
“ambillah kembali hartamu, dan jagalah hartamu, sesungguhnya aku hanya diutus
untuk mengujimu. Sungguh Allah telah ridho terhadapmu, dan murka terhadap kedua
temanmu”.
(HR.Bukhari & Muslim)
Begitu
banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tadi.
Fa
biayyi aalaa’i robbikuma tukadzdzibaan..maka nikmat Tuhan yang manakah yang
engkau dustakan.
Sering
kita lalai terhadap Allah, dan lupa bahwa segala harta yang ada adalah titipan dariNya. Dialah yang telah memberi segalanya. Sungguh
orang-orang disekeliling kita hanyalah perantara. Dan Dialah sebaik-baik
pemberi.
Ya
Rabb, jauhkanlah kami dari sifat kufur. Kumpulkanlah kami beserta hamba-hambaMu
yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan.
wallahu a'lam bishshawab
(ternyata menuliskannya dengan bahasa indonesia jauh lebih panjang, padahal hadits aslinya gak sepanjang ini).
(ternyata menuliskannya dengan bahasa indonesia jauh lebih panjang, padahal hadits aslinya gak sepanjang ini).
@nisaandromeda
4
januari 2014 - 16:14pm
Monday, December 23, 2013
AADM (Ada Apa Dengan Mengantre)...
Sepertinya
istilah “mengantre” sudah sangat akrab di telinga kita. Terutama daerah Jakarta
yang semuanya seakan tak afdhol kalau tak “antre”. Dimana-mana kita lihat tempat-tempat
penuh dengan antrean manusia.
Mulai
dari beli sayur di pedagang keliling sampai menunggu bayar belanjaan di kasir mall.
Mulai
dari antri bikin ktp di kelurahan sampai bikin rekening di bank.
Hal
seperti itu sudah menjadi santapan lezat sehari-hari. Tapi hal yang kadang
terlupakan adalah bahwa dalam “mengantre” itu terkandung pelajaran yang sangat
berharga.
Kemarin
saya mendapat inbox dari teman tentang pelajaran dibalik “mengantre” . Bermula
dari kekecewaan saya ketika memasuki kantin kampus. Ya, kantin yang merupakan tujuan
favorit mahasiswa kampus kami kala bel istirahat terdengar di seantero kelas.
Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.
Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.
Oke
kembali ke “antre” tadi.
Sampai
di depan kantin, tampak dari luar sudah banyak orang memenuhi kantin. Seperti
biasa langung ku masuk antrean. Sembari menunggu giliran, beberapa kali kulirik
jam, waktu sudah lewat 10 menit. Oh perut, sabar ya. Sambil mengobrol dengan
teman dibelakang, tiba-tiba kulihat segerombol orang menerobos masuk kedepan. Kemudian
memanggil mba pelayan. Mungkin merasa suaranya tak didengar maka ia memanggil
setengah berteriak supaya dilayani. (Sama sekali tidak bermaksud ghibah, hanya sebagai reminder aja).
Kemudian
datang beberapa orang lagi dengan tingkah yang sama. Mungkin, seakan di dunia ini
hanya merekalah penghuninya. Maklum, kalo lagi laper terkadang gampang emosi.
“gak
bisa dibiarin nih”, ucapku pada temanku. Ku tegur salah satu dari mereka untuk
masuk ke antrean. Tak dihiraukan sama sekali.
Kalau dilihat sih sepertinya
anak-anak baru. Ya maklumlah mungkin mereka terbiasa dirumah ketika makan langsung
ambil tak pernah ada istilah mengantre. Jadi belum terbiasa dengan budaya
seperti ini. But, come on, kita disini sama. Sama-sama laper. Sama-sama pengen
cepet biar gak telat. Si temanku masih betah dalam antrean yang mendadak
semrawut itu. Dan aku? Kuputuskan tuk keluar dan menahan semua. Menahan emosi,
nahan laper. Oh dunia kala itu sungguh terasa bikin aku “nyesek”.
Aku
berjalan menuju kursi dimana salah satu temanku duduk. Langsung ku mengajaknya
keluar. Heran dengan sikapku, langsung kujelaskan apa yang barusan terjadi. Kulihat waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Kuurungkan
niatku tuk makan. Dan kami pun kembali ke kelas dengan perut kosong.
Usai
kuliah. Kubergegas menuju kosan. Saat kuhidupkan laptop, cek inbox ternyata ada
pesan masuk. Temanku pengirimnya. Isinya sangat cocok dengan apa yang kualami
barusan. Tentang arti penting dari sebuah “mengantre”. Yang terkadang sering
kita lupa.
Saya
tak tau pasti sumbernya, setelah saya gugling
ternyata asal tulisan itu adalah dari Australia sana. Yang pasti isi dari tulisan
itu adalah kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa dirinya tak cemas jika
anak didiknya tak pandai matematika. Namun justru ia sangat cemas ketika mereka
tak pandai mengantre.
Ditanya
kenapa, dengan penuh keyakinan sang guru menjawab :” cukup
sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Namun untuk pandai
mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu waktu bertahun-tahun”.
Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak
didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali
keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya
itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre)
sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian
nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre. Disini saya
hanya tuliskan beberapa poin yang saya anggap poin amat penting.
Pertama adalah seseorang akan belajar manajemen waktu,
jika ia tak mau masuk dalam antrian panjang, maka ia harus datang lebih awal
(tapi tidak dengan keluar kelas sebelum bel istirahat ya, J ).
Kedua, seseorang belajar untuk bersabar. Karena dalam
mengantre sikap sabarlah yang berperan utama. Terutama jika ia berada di
antrean paling belakang.
Ketiga, seseorang belajar menghormati hak orang
lain. Bahwa yang datang dulu dialah yang lebih berhak. Ini yang perlu digaris
bawahi.
Keempat, seseorang belajar kreatif. Memikirkan
kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama
mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre).
Kelima, seseorang belajar tabah dalam proses
mencapai tujuannya.
Keenam, seseorang belajar hukum sebab akibat. Seperti
poin ketiga.
Ketujuh, seseorang belajar keteraturan dalam
hidup.
Begitu banyak nilai-nilai moral yang dapat kita
ambil dari sebuah aktifitas “mengantre”. Indah nan damai sekali ketika semua
saling menyadari akan hal itu. Sederhananya, “bebek aja ngantri, masa kita
enggak”, perumpamaan itulah yang sering dipakai masyarakat kita. ^_^
Semoga bermanfaat. @nisaandromeda
Monday, December 16, 2013
Guru, Orang Tua, Anak = Tak terpisahkan
usai mengajar tadi sore, salah satu wali murid menghampiri saya,
“kak do’a-do’a apa aja yang buat ujian rabu besok, bisa minta catatin gak, biar farel bisa belajar dirumah?” tanyanya.
“owh, bentar saya copyin”, jawabku.
“tadi farel bisa gak kak?”, tanyanya lagi.
“bisa kok bu, lancar”, jawabku tersenyum.
Ya, dia adalah ibu dari salah satu murid saya, farel. Yang masih duduk dikelas 1 SD, tapi bacaan ngajinya sudah melebihi teman-teman yang kelas 3. bagi saya itu adalah hal yang membahagiakan. ketika ada orang tua yang memperhatikan anaknya terutama belajarnya. Karena banyak dari wali murid yang acuh tak acuh. Tak pernah menanyakan gimana anaknya, perkembangan belajarnya. Sehingga si anak pun sering merasa susah ketika suruh baca materi yang kemarin disampaikan karena dirumah tak pernah diulang.
berbeda dengan orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya, maka dia akan menanyakan ada PR kah? Gimana tadi sekolahnya? Bisa apa gak? Jika ada yang susah maka dia mengajarinya, jika tau waktunya ujian dia menyuruh anaknya belajar. Ketika anaknya malas berangkat, orang tua mengingatkannya. Dan begitulah seyogyanya.
Karena suksesnya seorang anak tidak mutlak dari pihak guru. Tapi orang tua lah yang lebih besar perannya. Guru hanya memfasilitasi. Menyampaikan ilmu. Selebihnya dirumah anak lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Maka sangat disayangkan ketika ada seorang anak yang gagal ujian atau nilainya jelek kemudian si orang tua justru menyalahkan gurunya.
Harus ada kerja sama antara orang tua dan guru. Dan itulah yang selalu disampaikan ketika ada pertemuan wali murid.
Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang menjadi wasilah kesuksesan anak kita. amin.
“kak do’a-do’a apa aja yang buat ujian rabu besok, bisa minta catatin gak, biar farel bisa belajar dirumah?” tanyanya.
“owh, bentar saya copyin”, jawabku.
“tadi farel bisa gak kak?”, tanyanya lagi.
“bisa kok bu, lancar”, jawabku tersenyum.
Ya, dia adalah ibu dari salah satu murid saya, farel. Yang masih duduk dikelas 1 SD, tapi bacaan ngajinya sudah melebihi teman-teman yang kelas 3. bagi saya itu adalah hal yang membahagiakan. ketika ada orang tua yang memperhatikan anaknya terutama belajarnya. Karena banyak dari wali murid yang acuh tak acuh. Tak pernah menanyakan gimana anaknya, perkembangan belajarnya. Sehingga si anak pun sering merasa susah ketika suruh baca materi yang kemarin disampaikan karena dirumah tak pernah diulang.
berbeda dengan orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya, maka dia akan menanyakan ada PR kah? Gimana tadi sekolahnya? Bisa apa gak? Jika ada yang susah maka dia mengajarinya, jika tau waktunya ujian dia menyuruh anaknya belajar. Ketika anaknya malas berangkat, orang tua mengingatkannya. Dan begitulah seyogyanya.
Karena suksesnya seorang anak tidak mutlak dari pihak guru. Tapi orang tua lah yang lebih besar perannya. Guru hanya memfasilitasi. Menyampaikan ilmu. Selebihnya dirumah anak lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Maka sangat disayangkan ketika ada seorang anak yang gagal ujian atau nilainya jelek kemudian si orang tua justru menyalahkan gurunya.
Harus ada kerja sama antara orang tua dan guru. Dan itulah yang selalu disampaikan ketika ada pertemuan wali murid.
Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang menjadi wasilah kesuksesan anak kita. amin.
Friday, December 13, 2013
Ibnu Umar, Pecinta Rasul
Siapa yang tak kenal Ibnu Umar. Beliau adalah Abdullah bin
Umar, anak dari amirul mukminin, Umar bin Khattab. Namun lebih dikenal dengan
nama Ibnu Umar. Karena pada waktu itu ada banyak nama Abdullah, seperti
Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Mas'ud, dll.
Beliau adalah perawi hadits dan juga sahabat yang dikenal
sangat sering bermulazamah dengan Rasulullah.
Tak ada sahabat Rasul yang tidak cinta kepada Rasul. Mereka
menunjukkan kecintaannya dengan menjalankan sunnah-sunnahnya. Begitu pun Ibnu
Umar. Bahkan saking cintanya, pada Rasul, dia tidak hanya mengikuti perintah
dan sunnah-sunnahnya, tapi juga sampai hal terkecil yang bahkan sahabat lain
tidak melakukannya.
Pernah suatu hari Ibnu Umar melihat Rasulullah berjalan di
suatu tempat, dan ketika melewati sebuah pohon, Rasul berjalan memutari pohon
tersebut. Besoknya pun begitu.
Dan ketika Rasulullah telah wafat, suatu hari Ibnu Umar
berjalan dengan sahabat yang lain, dan melewati tempat dimana dulu Rasul selalu
memutari pohon disitu. ketika itu, pohon itu telah ditebang dan sudah tak ada
bekasnya. Namun beliau masih sangat ingat tempatnya.
Ibnu Umar tiba-tiba berjalan memutari tempat dimana pohon
itu dulu tumbuh.
Para sahabat bertanya,"wahai ibnu umar, apa yang kau
lakukan..?".
"dulu disini ada sebuah pohon, dan tiap Rasul lewat
ditempat ini, beliau berjalan memutari pohon itu", jawab Ibnu Umar.
bayangkan, saking cintanya kepada Rasul bahkan hal-hal yang
sekecil itu pun diikuti. Padahal itu kan
bukan sunnah. Namun Ibnu Umar pun mengikutinya, sebagai bentuk cintanya pada
Rasul.
والآن، أين نحن منهم؟
sudahkah kita mengikuti sunnah-sunnahnya?
bahkan, hal-hal yang wajib pun sering kita tinggalkan.
Pantaskah kita disebut Umat yang mencintainya?
wallahu a'lam bishshawab.. ^_^
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)