fiqh

Wednesday, May 14, 2014

I Planned but Allah has another plan

Pernah gak kamu merasakan berada disaat kita lagi begitu menikmati suatu disiplin ilmu, lagi nyaman-nyamannya, lagi pewe-pewenya, rasanya tuh rugi banget kalo melewatkannya. Saat dimana kita lagi cinta banget sama pelajarannya plus ditambah pengajar yang super keren, yang membuat kita benar-benar tak rela untuk lalai sedikitpun.

Namun justru ketika ujian di pelajaran itu, apa yang kita dapat? Ternyata nilai kita jauh dari apa yang diperkirakan. Dan lebih parahnya lagi, teman-teman dekat kita ternyata jauh diatas kita. Benar sekali kata Ranchodas Chancad:"kita sedih jika nilai kita tak seperti yang diharapkan, namun akan terasa makin sedih jika melihat teman kita jauh diatas kita".

Memang benar,apa sih arti sebuah nilai? toh nanti kalau sudah lulus juga gak akan ditanya. Dan kita akui bukan nilailah yang menjadi prioritas kita. Bukan. Sama sekali bukan. Akan tetapi jauh didalam hati ini ada suara yang diam-diam berseru:”katanya suka pelajaran ini, tapi mana buktinya…?”. Asli nyesek banget. Malu sama diri sendiri.

Saat itulah kita seperti berada di titik terendah dalam perjalanan kita.
kalo kata teman saya:"kita tengah berada di titik nadir"


Saat itulah kita harus memaksa diri tuk segera bangkit. Tuk segera melupakan dan berdiri tegak menghadap kedepan, melihat betapa Allah sangat menyayangi kita dengan memberikan kita cobaan dan tantangan. Akankah kita berdiam dalam keterpurukan ataukah bangkit menatap jauh kedepan jalan yang masih harus kita lewati. Akankah kita menjadi hamba yang lulus uji ataukah produk gagal.

My life may not be going the way I planned, but its going exactly the Allah has planned. Indeed Allah is a better planner, the guide. So, just keep praying.

Saturday, May 10, 2014

be better in socmed, why not?

Barack Obama adalah satu-satunya presiden amerika kulit hitam. padahal sebelumya di amerika ada peraturan "presiden harus dari kulit putih" karena dulunya bagi mereka kulit hitam itu adalah kelompok budak. dan setelah terpilihnya Obama, kini peraturan itu pun dihapuskan.

namun kenapa ia akhirnya terpilih menjadi presiden? ternyata ia menggunakan strategi media. dalam sehari Obama menge-tweet 2ribuan tweet. followernya pun mencapai 42juta. maka tak heran jika hampir semua pengguna sosmed di dunia membicarakannya.

selain Obama, di Indonesia juga ada Jokowi yang pada pemilihan gubernur Jakarta beberapa tahun lalu terpilih sebagai gubernur. Dalam sebuah situs dituliskan bahwa ia mempunyai 150 orang khusus yang tergabung menjadi Tim IT-nya. maka kemudian semua orang membicarakannya, semua orang "menemuiny" ditiap sosia media mereka. Hal itu juga diakui oleh Lawannya Foke, bahwa mereka sangat menang di media.

ya. dewasa ini, tak dapat dipungkiri bahwa sosial media mempunyai peran sangat besar dalam kehidupan kita. kita dapat mengetahui info di berbagai penjuru dunia hanya dari dalam kamar kita, tanpa kita harus jauh-jauh datang kesana.

berdasarkan suvei, Indonesia menempati urutan kedua pengguna facebook terbanyak di dunia setelah Amerika. dan juga menempati urutan ketiga pengguna twitter terbanyak.

alangkah indahnya jika sosial media yang kita punya berisi pesan-pesan kebaikan, yang kemudian orang bisa mendapatkan ilmu baru, mengambil manfaat darinya. bayangkan berapa jumlah pahala yang nantinya akan masuk ke rekening akhirat kita.

so, ready to be better in socmed?


wallahu a'lam bishshawab

pesan baru dihari sabtu.

Friday, May 9, 2014

Saturday, April 26, 2014

Menikahi wanita yang sedang hamil, bolehkah?

A.  Menikahi wanita hamil karena zina

Fenomena pergaulan bebas akhir-akhir ini menjadi sumber utama rusaknya akhlak generasi muda. Akibatnya, kasus-kasus seperti perzinaan pun kerap memenuhi media baik online maupun cetak. Bahkan terkadang terjadi oleh orang-orang sekitar kita.

Si orang tua harus menanggung malu akan beban yang diberikan anaknya. Kemudian beban itu semakin berat ketika ditambah dengan kehamilan. Mending jika si laki-laki mau menikahi si perempuan, namun yang banyak terjadi justru sebaliknya, mereka lebih memilih untuk berlepas diri dari si perempuan itu. Disini tidak ada pihak yang paling dirugikan selain pihak si perempuan.. 
Wal iyadzubillah.

Terkait masalah ini, para ulama berbeda pendapat dalam berhukum tentang boleh tidaknya menikahi wanita yang hamil karena zina.

1.    Al-Malikiyah, Al-Hanabilah dan Abu Yusuf (dari kalangan Hanafiyyah)

Menurut pendapat kalangan ini, tidak boleh hukumnya menikahi wanita yang sedang hamil karena zina kecuali jika selesai masa iddahnya, baik itu oleh pasangan zinanya sendiri ataupun oleh orang lain.
Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatka oleh Abu Daud:
لا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ
Perempuan yang hamil tidak dikawini sampai dia melahirkan (HR.Abu Daud)
Juga dari riwayat Sa’id bin Musayyab:
أن رَجُلا تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَلَمَّا أَصَابَهَا وَجَدَهَا حُبْلَى فَرَفَعَ ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا
Bahwasanya seorang laki-laki pernah menikahi seorang perempuan, dan setelah dinikahi ia baru mengetahui bahwa dia hamil, kemudian ia mengadukannya pada nabi SAW, maka nabi SAW memisahkan keduanya. 
Kalangan Al-Hanabilah menambahkan satu syarat lagi, yaitu seorang perempuan itu harus sudah bertaubat, dan jika ia belum bertaubat maka ia tidak boleh dinikahi oleh siapapun.
Taubat seperti apakah yang dimaksud? Taubat yang dimaksud adalah taubat sebagaimana taubat karena melakukan dosa besar lainnya, yaitu:
  • Ikhlas karena Allah 
  •  Menyesali perbuatannya
  • Meninggalkan dosa tersebut 
  • Dan ber-azzam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya
2.    Asy-Syafiiyah, Al-Hanafiyyah dan Muhammad (dari kalangan Al-Hanafiyyah)

Sedangkan menurut pendapat kalangan ini, seorang wanita yang hamil karena zina boleh dinikahi baik itu oleh pasangan zinanya ataupun orang lain. Dengan dalil:

Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Namun pada kelompok Hanafiyyah ada sedikit perbedaan, yaitu jika yang menikahi itu bukan laki-laki yang berzina dengannya maka dia tidak boleh menggaulinya sampai dia melahirkan. Pendapat ini didasarkan pada hadits:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخرفلا يسقين ماءه زرع غيره
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menuangkan (air maninya) pada tanaman orang lain (HR.Abu Daud)

Akan tetapi jika yang menikahinya adalah pasangan zinanya maka ia boleh untuk menggaulinya.
Berbeda dengan kelompok Syafiiyah yang membolehkan untuk menikahinya juga menggaulinya, karena diantara hikmah dari menikah adalah halalnya farj.

B.    Menikahi wanita hamil yang ditalak suaminya

Seorang wanita yang tengah hamil, kemudian ditalak suaminya, bolehkah dia dinikahi?
Untuk masalah ini, ulama membedakannya antara wanita hamil yang ditalak raj’i dan yang ditalak bain.

Jika seorang yang hamil itu ditalak raj’i oleh suaminya kemudian suaminya ingin kembali dengannya maka suami boleh langsung kembali tanpa harus ada pernikahan. Karena memang status mereka saat itu masih suami istri.

Namun apabila ditalak bain, kita lihat dulu siapa yang akan menikahinya, mantan suami kah? Ataukah orang lain? Jika si suami yang ingin kembali pada istrinya maka ia harus menunggu sampai masa iddah si istri selesai. Berapa lama masa iddahnya? Dalam kondisi ini seorang perempuan yang hamil masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan dan sudah menikah lagi dengan orang lain, baru mantan suami itu boleh menikahi kembali istrinya.

Akan tetapi berbeda jika yang akan menikahinya itu orang lain, maka dia cukuplah menunggu sampai habis masa iddahnya, yaitu sampai melahirkan. Hal ini didasarkan pada ayat:
وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
Perempuan-perempuan yang hamil masa iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan
 (QS. At-Thalaq 4)

Alangkah indah aturan Tuhan. Aturan yang tak pernah ada dalam agama lain. Sungguh apa yang ditentukan Allah adalah yang terbaik untuk hamba-Nya. Namun manusialah yang kadang tak kuasa tuk bisa memahami dan berujung pada ber-atur pada keinginan sendiri.

Wallahu a’lam bishshawab.
  
Sumber:
  • Al-Mausu’ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah
  • Hasyiyah Ibnu Abdin
  • Kassyaf al-Qina’
  • Al-Majmu’ syarh Al-muhadzzab

Sunday, March 2, 2014

Belajar dari Ibnu Hurmuz

Beliau adalah guru dari Imam Malik (pendiri madzhab Maliki). Beliau adalah orang yang sangat tawadhu dan hati-hati dalam menyampaikan ilmu.

Dalam kitab Jami’ Bayan al Ilmi wa Fadhlih yang ditulis oleh Ibnu Abdil Baar dikisahkan: bahwasanya dulu ketika Imam Malik ber-guru pada Ibnu Hurmuz dia selalu datang bersama temannya Abdul Aziz bin Salamah. Dan selain mereka juga ada orang lain yang ikut datang menimba ilmu kepada Ibnu Hurmuz. Dia adalah Muhammad bin Ibrahim bin Dinar.

Dikisahkan bahwa jika Imam Malik dan Abdul Aziz bertanya tentang suatu hal, Ibnu Hurmuz selalu menjawabnya. Akan tetapi hal yang berbeda jika Ibnu Dinar yang bertanya justru Ibnu Hurmuz lebih banyak diam dan tak menjawabnya.

Maka akhirnya Ibnu Dinar datang dan menemui Ibnu Hurmuz.
“wahai guru, aku ingin bertanya padamu tentang suatu hal yang selama ini ingin kukatakan.”

“Apakah itu?” Tanya Ibnu Hurmuz.

“Kenapa setiap kali Malik dan Abdul Aziz bertanya, guru selalu menjawabnya. Sedangkan jika kami yang bertanya guru malah diam?”

“Apakah itu menyakiti hatimu?” Tanya Ibnu Hurmuz.

“Betul wahai guru,” jawab Ibnu Dinar.

Kemudian Ibnu Hurmuz menjawab:
“sesungguhnya aku ini adalah orang yang sudah tua, dan aku takut ke-tua-anku menggerogoti akalku sebagaimana ia menggerogoti tubuhku, dan sangat mungkin bagiku berbuat kesalahan”.

“malik dan Abdul Aziz adalah orang yang pintar dan berilmu, maka jika aku katakan sesuatu yang benar maka mereka menerimanya, dan jika aku katakana sesuatu yang salah mereka akan menolak dan tak akan menyampaikannya pada orang lain”.

“Sedangkan kamu dan teman-temanmu tidaklah seperti mereka. semua yang aku katakan, kamu terima. Maka aku takut jika aku menjawab dengan jawaban yang salah, engkau terima dan kemudian menyampaikannya pada orang lain dan itu akan menjadi dosa yang berlipat bagiku”.

Jawaban yang sangat indah. Kisah yang sangat inspiratif. Sikap hati-hati dalam menyampaikan ilmu. Apalagi ilmu syariah. Karena ia bukanlah seperti ilmu yang lainnya. Bahkan ia berhubungan erat dengan pahala dan dosa.

So, just tell what you believe..

Sunday, 2nd march ‘14
@nisaandromeda

Saturday, January 4, 2014

syukur dan kufur

Hari ini adalah hari ketiga ujian. Diisi dengan materi tauhid. Dari 28 bab materi tauhid semester ini, ada salah satu bab yang berisi hadits yang begitu menarik buat saya dan mendorong saya untuk menuliskannya disini. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :”sesungguhnya ada tiga orang dari bani israil : masing-masing mereka itu abrash (berpenyakit kulit), aqra’ (kepalanya botak), dan a’ma (buta), kemudian Allah ingin menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat.

Datanglah malaikat itu kepada pemuda pertama, kemudian berkata :

Malaikat : “apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda 1 : “warna yang bagus, kulit yang bagus, sehingga hilanglah sesuatu yang menyebabkan orang menjauhiku”

Kemudian malaikat pun mengusapnya, dan hilanglah darinya penyakitnya, dan diganti dengan warna dan kulit yang bagus.

Kemudian malaikat berkata lagi :
Malaikat : “ harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda 1 : “onta “
Kemudian diberinya onta betina yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha” ucap malaikat.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang kedua (aqra’). Kemudian berkata:
Malaikat : apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda 2 : “rambut yang indah, sehingga hilanglah rasa jijik orang terhadapku”.

Kemudian malaikat pun mengusapnya dan hilanglah botak itu darinya dan digantinya dengan rambut yang indah.

Kemudian malaikat bertanya lagi :
Malaikat :”harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda 2 : “sapi”. 
Kemudian diberinya sapi yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha”, ucap malaikat.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang ketiga (a’ma). Kemudian berkata :
Malaikat :”apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda 3 : “aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa kembali melihat”. 

Kemudian malaikat mengusapnya dan Allah mengembalikan penglihatannya.
Malaikat :”apa harta yang paling kamu senangi?”
Pemuda 3 : “domba”. Kemudian diberinya domba betina yang tengah hamil.

Kemudian masing-masing dari ketiganya menghasilkan kumpulan onta, kumpulan sapi dan kumpulan domba.

Beberapa waktu kemudian, datanglah kembali malaikat itu dengan mewujud sebagai manusia. Kemudian berkata :

Malaikat :”aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak ada harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah memberimu warna kulit yang indah, aku meminta padamu seekor ba’ir (sejenis onta tapi bukan jenis onta yang terbaik, namun hanya onta yang sering dipakai untuk bepergian) yang dengannya aku bisa meneruskan perjalananku”.

Pemuda 1 : “alhuquuqu katsiroh, harta yang kumiliki sekarang ini berkenaan dengan banyak hak, bukan hanya hakmu saja.

Malaikat :”sepertinya aku mengenalmu. Bukankah engkau dulu yang punya penyakit kulit sehingga orang-orang menjauhimu, dan dulu engkau miskin kemudian Allah memberimu harta?”.

Pemuda 1 :”sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari orang tuaku.”

Kemudian malaikat berkata :
Malaikat: “jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.

Kemudian malaikat mendatangi pemuda yang kedua. Kemudian berkata seperti yang dikatakan pada pemuda pertama. Dan dia pun menolaknya seperti apa yang dilakukan pemuda pertama.

Malaikat :” jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi pemuda yang ketiga. Dan berkata:

Malaikat :” aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak ada harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu, aku meminta padamu seekor domba yang dengannya aku bisa meneruskan perjalananku”.

Pemuda 3 :”sesungguhnya aku dulu buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku; maka ambillah apa yang kamu sukai dan kamu inginkan. Demi Allah, sesungguhnya aku tak pernah bersusah payah dengan harta yang engkau ambil ini untuk engkau pakai di jalan Allah.

Malaikat: “ambillah kembali hartamu, dan jagalah hartamu, sesungguhnya aku hanya diutus untuk mengujimu. Sungguh Allah telah ridho terhadapmu, dan murka terhadap kedua temanmu”.

(HR.Bukhari & Muslim)

Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tadi.
Fa biayyi aalaa’i robbikuma tukadzdzibaan..maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan.
Sering kita lalai terhadap Allah, dan lupa bahwa segala harta yang ada adalah titipan dariNya. Dialah yang telah memberi segalanya. Sungguh orang-orang disekeliling kita hanyalah perantara. Dan Dialah sebaik-baik pemberi.

Ya Rabb, jauhkanlah kami dari sifat kufur. Kumpulkanlah kami beserta hamba-hambaMu yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan.

wallahu a'lam bishshawab

(ternyata menuliskannya dengan bahasa indonesia jauh lebih panjang, padahal hadits aslinya gak sepanjang ini).

@nisaandromeda
4 januari 2014 - 16:14pm



Monday, December 23, 2013

AADM (Ada Apa Dengan Mengantre)...

Sepertinya istilah “mengantre” sudah sangat akrab di telinga kita. Terutama daerah Jakarta yang semuanya seakan tak afdhol kalau tak “antre”. Dimana-mana kita lihat tempat-tempat penuh dengan antrean manusia.

Mulai dari beli sayur di pedagang keliling sampai menunggu bayar belanjaan di kasir mall.
Mulai dari antri bikin ktp di kelurahan sampai bikin rekening di bank.

Hal seperti itu sudah menjadi santapan lezat sehari-hari. Tapi hal yang kadang terlupakan adalah bahwa dalam “mengantre” itu terkandung pelajaran yang sangat berharga.

Kemarin saya mendapat inbox dari teman tentang pelajaran dibalik “mengantre” . Bermula dari kekecewaan saya ketika memasuki kantin kampus. Ya, kantin yang merupakan tujuan favorit mahasiswa kampus kami kala bel istirahat terdengar di seantero kelas. 

Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.

Oke kembali ke “antre” tadi.

Sampai di depan kantin, tampak dari luar sudah banyak orang memenuhi kantin. Seperti biasa langung ku masuk antrean. Sembari menunggu giliran, beberapa kali kulirik jam, waktu sudah lewat 10 menit. Oh perut, sabar ya. Sambil mengobrol dengan teman dibelakang, tiba-tiba kulihat segerombol orang menerobos masuk kedepan. Kemudian memanggil mba pelayan. Mungkin merasa suaranya tak didengar maka ia memanggil setengah berteriak supaya dilayani. (Sama sekali tidak bermaksud ghibah, hanya sebagai reminder aja).

Kemudian datang beberapa orang lagi dengan tingkah yang sama. Mungkin, seakan di dunia ini hanya merekalah penghuninya. Maklum, kalo lagi laper terkadang gampang emosi.
“gak bisa dibiarin nih”, ucapku pada temanku. Ku tegur salah satu dari mereka untuk masuk ke antrean. Tak dihiraukan sama sekali. 

Kalau dilihat sih sepertinya anak-anak baru. Ya maklumlah mungkin mereka terbiasa dirumah ketika makan langsung ambil tak pernah ada istilah mengantre. Jadi belum terbiasa dengan budaya seperti ini. But, come on, kita disini sama. Sama-sama laper. Sama-sama pengen cepet biar gak telat. Si temanku masih betah dalam antrean yang mendadak semrawut itu. Dan aku? Kuputuskan tuk keluar dan menahan semua. Menahan emosi, nahan laper. Oh dunia kala itu sungguh terasa bikin aku “nyesek”.

Aku berjalan menuju kursi dimana salah satu temanku duduk. Langsung ku mengajaknya keluar. Heran dengan sikapku, langsung kujelaskan apa yang barusan terjadi. Kulihat waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Kuurungkan niatku tuk makan. Dan kami pun kembali ke kelas dengan perut kosong.

Usai kuliah. Kubergegas menuju kosan. Saat kuhidupkan laptop, cek inbox ternyata ada pesan masuk. Temanku pengirimnya. Isinya sangat cocok dengan apa yang kualami barusan. Tentang arti penting dari sebuah “mengantre”. Yang terkadang sering kita lupa.

Saya tak tau pasti sumbernya,  setelah saya gugling ternyata asal tulisan itu adalah dari Australia sana. Yang pasti isi dari tulisan itu adalah kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa dirinya tak cemas jika anak didiknya tak pandai matematika. Namun justru ia sangat cemas ketika mereka tak pandai mengantre.

Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan sang guru menjawab :” cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Namun untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu waktu bertahun-tahun”.

Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre. Disini saya hanya tuliskan beberapa poin yang saya anggap poin amat penting.

Pertama adalah seseorang akan belajar manajemen waktu, jika ia tak mau masuk dalam antrian panjang, maka ia harus datang lebih awal (tapi tidak dengan keluar kelas sebelum bel istirahat ya, J ).

Kedua, seseorang belajar untuk bersabar. Karena dalam mengantre sikap sabarlah yang berperan utama. Terutama jika ia berada di antrean paling belakang.

Ketiga, seseorang belajar menghormati hak orang lain. Bahwa yang datang dulu dialah yang lebih berhak. Ini yang perlu digaris bawahi.

Keempat, seseorang belajar kreatif. Memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre).

Kelima, seseorang belajar tabah dalam proses mencapai tujuannya.

Keenam, seseorang belajar hukum sebab akibat. Seperti poin ketiga.

Ketujuh, seseorang belajar keteraturan dalam hidup.

Begitu banyak nilai-nilai moral yang dapat kita ambil dari sebuah aktifitas “mengantre”. Indah nan damai sekali ketika semua saling menyadari akan hal itu. Sederhananya, “bebek aja ngantri, masa kita enggak”, perumpamaan itulah yang sering dipakai masyarakat kita. ^_^

Semoga bermanfaat. @nisaandromeda