Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar istilah“ilmu nahwu”?
ilmu nahwu itu apa? Bagi yang pernah belajar bahasa Arab, ilmu nahwu
pasti tak asing baginya. Ya, layaknya bahasa Inggris yang mempunyai
grammar, bahasa Arab punya nahwu. Bisa dibilang ilmu nahwu itu adalah
grammarnya bahasa Arab.
Namun di sini saya tidak akan
membahas tentang ilmu nahwu terlalu panjang. Hanya ingin berbagi tentang
apa yang saya dapat dari dosen nahwu saya beberapa waktu lalu.
Bagi
yang sudah kenal ilmu nahwu pasti tak asing dengan salah satu kitab
nahwu yang berjudul “"أوضح
المسالك إلى ألفية ابن مالك yang ditulis oleh
Ibnu Hisyam. Buku itu berisi materi nahwu yang ditulis dengan bahasa
yang cukup sulit, bahkan rumit. Hingga tak jarang kami harus membuka dan
mencari penjelasan dari sumber lainnya.
Sering terpikir oleh kami, kenapa Ibnu Hisyam tidak menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti?
Salah
satu tokoh nahwu terkemuka, Sibawaih mengatakan bahwa dia menuliskannya
dengan menyesuaikan keadaan muridnya pada masa itu. Seorang guru yang
mengajari muridnya maka ia akan gunakan bahasa yang paling pas
untukmereka. Memang, gimana keadaan murid mereka saat itu? Mari kita
simak...
Pada masa itu seorang anak yang hendak masuk
sekolah SD syaratnya harus hafidz alqur’an. Itulah kenapa umur anak yang
akan masuk SD pada masa itu ada yang berumur 8 tahun, bahkan 9 tahun.
Maka
tak heran jika pada masa itu ada anak kecil sudah hafal alqur’an karena
saat itu jumlah penghafal alqur’an sangat banyak sekali. Bahkan hampir
semuanya.
Jika ada anak yang hafal alqur’an tak ada
yang namanya syahadah atau sejenisnya. Tak seperti sekarang sering kita
jumpai wisuda alqur’an atau haflah hafidz alqur’an, ya karena jumlah
penghafal alqur’an sangat terbatas.
Kembali ke kitab nahwu tadi. Maka tak heran jika kualitas umat terdahulu dan sekarang sangat jauh berbeda.
Saya
jadi teringat kisah salah satu khulafaur rasyidin. Ketika itu umat
islam dipimpin oleh khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu keadaan
kaum muslimin tengah menghadapi banyak masalah, mulai dari orang yang
mengaku nabipalsu kemudian banyak diantara kaum muslimin yang tidak mau
membayar zakat.
Lalu datanglah seorang laki-laki pada
khalifah Ali bin Abi Thalib,kemudian bertanya: “wahai khalifah, dulu
ketika kaum muslimin dipimpin oleh Usman bin Affan, keadaan seperti ini
tak pernah terjadi, akan tetapi mengapa sekarang berbeda sekali?
Apa
yang khalifah Ali katakan saat itu? “dulu pada masa kepemimpinan Usman,
umatnya seperti aku, sedangkan sekarang umatnya seperti kamu”.
Itulah
kenapa umat sekarang dan umat dahulu sangat berbeda.Karena dari segi
kualitas ilmu dan iman pun sudah sangat berbeda. Akan tetapi harus
selalu berusaha meneladani sifat dan kebiasaan mereka. Selalu belajar
dan memperkaya ilmu. Karena seorang ulama (orang yang berilmu) itulah
“ahli waris”para nabi.
Rasulullah pun telah mengatakan
bahwa sebaik-baik umatnya adalah yang tidak pernah bertemu dengan beliau
akan tetapi percaya dan beriman dengannya. Semoga kita termasuk
didalamnya. Amin.
Wallahu a’lam bishshawab…
fiqh
- all in one (2)
- fiqih (1)
- kehidupan (6)
- kisah (2)
- motivation (6)
- muhasabah (1)
- opini (3)
- picture (1)
Monday, September 29, 2014
Wednesday, May 14, 2014
I Planned but Allah has another plan
Pernah gak kamu merasakan berada disaat kita lagi begitu menikmati suatu disiplin ilmu, lagi nyaman-nyamannya, lagi pewe-pewenya, rasanya tuh rugi banget kalo melewatkannya. Saat dimana kita lagi cinta banget sama pelajarannya plus ditambah pengajar yang super keren, yang membuat kita benar-benar tak rela untuk lalai sedikitpun.
Namun justru ketika ujian di pelajaran itu, apa yang kita dapat? Ternyata nilai kita jauh dari apa yang diperkirakan. Dan lebih parahnya lagi, teman-teman dekat kita ternyata jauh diatas kita. Benar sekali kata Ranchodas Chancad:"kita sedih jika nilai kita tak seperti yang diharapkan, namun akan terasa makin sedih jika melihat teman kita jauh diatas kita".
Memang benar,apa sih arti sebuah nilai? toh nanti kalau sudah lulus juga gak akan ditanya. Dan kita akui bukan nilailah yang menjadi prioritas kita. Bukan. Sama sekali bukan. Akan tetapi jauh didalam hati ini ada suara yang diam-diam berseru:”katanya suka pelajaran ini, tapi mana buktinya…?”. Asli nyesek banget. Malu sama diri sendiri.
Saat itulah kita seperti berada di titik terendah dalam perjalanan kita.
kalo kata teman saya:"kita tengah berada di titik nadir"
Saat itulah kita harus memaksa diri tuk segera bangkit. Tuk segera melupakan dan berdiri tegak menghadap kedepan, melihat betapa Allah sangat menyayangi kita dengan memberikan kita cobaan dan tantangan. Akankah kita berdiam dalam keterpurukan ataukah bangkit menatap jauh kedepan jalan yang masih harus kita lewati. Akankah kita menjadi hamba yang lulus uji ataukah produk gagal.
My life may not be going the way I planned, but its going exactly the Allah has planned. Indeed Allah is a better planner, the guide. So, just keep praying.
Namun justru ketika ujian di pelajaran itu, apa yang kita dapat? Ternyata nilai kita jauh dari apa yang diperkirakan. Dan lebih parahnya lagi, teman-teman dekat kita ternyata jauh diatas kita. Benar sekali kata Ranchodas Chancad:"kita sedih jika nilai kita tak seperti yang diharapkan, namun akan terasa makin sedih jika melihat teman kita jauh diatas kita".
Memang benar,apa sih arti sebuah nilai? toh nanti kalau sudah lulus juga gak akan ditanya. Dan kita akui bukan nilailah yang menjadi prioritas kita. Bukan. Sama sekali bukan. Akan tetapi jauh didalam hati ini ada suara yang diam-diam berseru:”katanya suka pelajaran ini, tapi mana buktinya…?”. Asli nyesek banget. Malu sama diri sendiri.
Saat itulah kita seperti berada di titik terendah dalam perjalanan kita.
kalo kata teman saya:"kita tengah berada di titik nadir"
Saat itulah kita harus memaksa diri tuk segera bangkit. Tuk segera melupakan dan berdiri tegak menghadap kedepan, melihat betapa Allah sangat menyayangi kita dengan memberikan kita cobaan dan tantangan. Akankah kita berdiam dalam keterpurukan ataukah bangkit menatap jauh kedepan jalan yang masih harus kita lewati. Akankah kita menjadi hamba yang lulus uji ataukah produk gagal.
My life may not be going the way I planned, but its going exactly the Allah has planned. Indeed Allah is a better planner, the guide. So, just keep praying.
Saturday, May 10, 2014
be better in socmed, why not?
Barack Obama adalah satu-satunya presiden amerika kulit hitam. padahal sebelumya di amerika ada peraturan "presiden harus dari kulit putih" karena dulunya bagi mereka kulit hitam itu adalah kelompok budak. dan setelah terpilihnya Obama, kini peraturan itu pun dihapuskan.
namun kenapa ia akhirnya terpilih menjadi presiden? ternyata ia menggunakan strategi media. dalam sehari Obama menge-tweet 2ribuan tweet. followernya pun mencapai 42juta. maka tak heran jika hampir semua pengguna sosmed di dunia membicarakannya.
selain Obama, di Indonesia juga ada Jokowi yang pada pemilihan gubernur Jakarta beberapa tahun lalu terpilih sebagai gubernur. Dalam sebuah situs dituliskan bahwa ia mempunyai 150 orang khusus yang tergabung menjadi Tim IT-nya. maka kemudian semua orang membicarakannya, semua orang "menemuiny" ditiap sosia media mereka. Hal itu juga diakui oleh Lawannya Foke, bahwa mereka sangat menang di media.
ya. dewasa ini, tak dapat dipungkiri bahwa sosial media mempunyai peran sangat besar dalam kehidupan kita. kita dapat mengetahui info di berbagai penjuru dunia hanya dari dalam kamar kita, tanpa kita harus jauh-jauh datang kesana.
berdasarkan suvei, Indonesia menempati urutan kedua pengguna facebook terbanyak di dunia setelah Amerika. dan juga menempati urutan ketiga pengguna twitter terbanyak.
alangkah indahnya jika sosial media yang kita punya berisi pesan-pesan kebaikan, yang kemudian orang bisa mendapatkan ilmu baru, mengambil manfaat darinya. bayangkan berapa jumlah pahala yang nantinya akan masuk ke rekening akhirat kita.
so, ready to be better in socmed?
wallahu a'lam bishshawab
pesan baru dihari sabtu.
Friday, May 9, 2014
Saturday, April 26, 2014
Menikahi wanita yang sedang hamil, bolehkah?
A.
Menikahi
wanita hamil karena zina
1. Al-Malikiyah, Al-Hanabilah dan Abu Yusuf (dari kalangan Hanafiyyah)
B. Menikahi wanita hamil yang ditalak suaminya
Fenomena pergaulan bebas akhir-akhir
ini menjadi sumber utama rusaknya akhlak generasi muda. Akibatnya, kasus-kasus
seperti perzinaan pun kerap memenuhi media baik online maupun cetak. Bahkan
terkadang terjadi oleh orang-orang sekitar kita.
Si orang tua harus menanggung malu
akan beban yang diberikan anaknya. Kemudian beban itu semakin berat ketika ditambah
dengan kehamilan. Mending jika si laki-laki mau menikahi si perempuan, namun
yang banyak terjadi justru sebaliknya, mereka lebih memilih untuk berlepas diri
dari si perempuan itu. Disini tidak ada pihak yang paling dirugikan selain
pihak si perempuan..
Wal iyadzubillah.
Wal iyadzubillah.
Terkait masalah ini, para ulama berbeda
pendapat dalam berhukum tentang boleh tidaknya menikahi wanita yang hamil
karena zina.
1. Al-Malikiyah, Al-Hanabilah dan Abu Yusuf (dari kalangan Hanafiyyah)
Menurut pendapat kalangan ini, tidak
boleh hukumnya menikahi wanita yang sedang hamil karena zina kecuali
jika selesai masa iddahnya, baik itu oleh pasangan zinanya sendiri ataupun oleh
orang lain.
Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatka oleh Abu Daud:
لا
تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ
Perempuan
yang hamil tidak dikawini sampai dia melahirkan (HR.Abu Daud)
Juga
dari riwayat Sa’id bin Musayyab:
أن رَجُلا
تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَلَمَّا أَصَابَهَا وَجَدَهَا حُبْلَى فَرَفَعَ ذَلِكَ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا
Bahwasanya
seorang laki-laki pernah menikahi seorang perempuan, dan setelah dinikahi ia
baru mengetahui bahwa dia hamil, kemudian ia mengadukannya pada nabi SAW, maka
nabi SAW memisahkan keduanya.
Kalangan
Al-Hanabilah menambahkan satu syarat lagi, yaitu seorang perempuan itu harus
sudah bertaubat, dan jika ia belum bertaubat maka ia tidak boleh dinikahi oleh
siapapun.
Taubat
seperti apakah yang dimaksud? Taubat yang dimaksud adalah taubat sebagaimana
taubat karena melakukan dosa besar lainnya, yaitu:
- Ikhlas karena Allah
- Menyesali perbuatannya
- Meninggalkan dosa tersebut
- Dan ber-azzam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya
Sedangkan menurut pendapat
kalangan ini, seorang wanita yang hamil karena zina boleh
dinikahi baik itu oleh pasangan zinanya ataupun orang lain. Dengan dalil:
Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah
ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk
menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah.
Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`.
(HR Tabarany dan Daruquthuny).
Namun pada kelompok
Hanafiyyah ada sedikit perbedaan, yaitu jika yang menikahi itu bukan laki-laki
yang berzina dengannya maka dia tidak boleh menggaulinya sampai dia melahirkan.
Pendapat ini didasarkan pada hadits:
من
كان يؤمن بالله واليوم الآخرفلا يسقين ماءه زرع غيره
Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menuangkan (air maninya) pada tanaman
orang lain (HR.Abu Daud)
Akan tetapi jika yang
menikahinya adalah pasangan zinanya maka ia boleh untuk menggaulinya.
Berbeda dengan kelompok Syafiiyah
yang membolehkan untuk menikahinya juga menggaulinya, karena diantara hikmah
dari menikah adalah halalnya farj.
B. Menikahi wanita hamil yang ditalak suaminya
Seorang wanita yang tengah hamil,
kemudian ditalak suaminya, bolehkah dia dinikahi?
Untuk masalah ini, ulama membedakannya
antara wanita hamil yang ditalak raj’i dan yang ditalak bain.
Jika seorang yang hamil itu ditalak raj’i oleh suaminya kemudian
suaminya ingin kembali dengannya maka suami boleh
langsung kembali tanpa harus ada pernikahan. Karena memang status mereka
saat itu masih suami istri.
Namun apabila ditalak bain, kita lihat dulu siapa
yang akan menikahinya, mantan suami kah? Ataukah orang lain? Jika si suami yang
ingin kembali pada istrinya maka ia harus menunggu sampai masa iddah si istri
selesai. Berapa lama masa iddahnya? Dalam kondisi ini seorang perempuan yang
hamil masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan dan sudah menikah lagi dengan
orang lain, baru mantan suami itu boleh menikahi kembali istrinya.
Akan tetapi berbeda jika yang akan
menikahinya itu orang lain, maka dia cukuplah menunggu sampai habis masa
iddahnya, yaitu sampai melahirkan. Hal
ini didasarkan pada ayat:
وَأُولَاتُ
الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
Perempuan-perempuan
yang hamil masa iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan
(QS. At-Thalaq 4)
Alangkah indah aturan Tuhan. Aturan yang
tak pernah ada dalam agama lain. Sungguh apa yang ditentukan Allah adalah yang
terbaik untuk hamba-Nya. Namun manusialah yang kadang tak kuasa tuk bisa
memahami dan berujung pada ber-atur pada keinginan sendiri.
Wallahu a’lam bishshawab.
Sumber:
- Al-Mausu’ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyyah
- Hasyiyah Ibnu Abdin
- Kassyaf al-Qina’
- Al-Majmu’ syarh Al-muhadzzab
Sunday, March 2, 2014
Belajar dari Ibnu Hurmuz
Beliau
adalah guru dari Imam Malik (pendiri madzhab Maliki). Beliau adalah orang yang sangat tawadhu dan
hati-hati dalam menyampaikan ilmu.
Dalam kitab Jami’ Bayan al Ilmi wa Fadhlih yang ditulis oleh Ibnu Abdil Baar dikisahkan:
bahwasanya dulu ketika Imam Malik ber-guru pada Ibnu Hurmuz dia selalu datang
bersama temannya Abdul Aziz bin Salamah. Dan selain mereka juga ada orang lain
yang ikut datang menimba ilmu kepada Ibnu Hurmuz. Dia adalah Muhammad bin
Ibrahim bin Dinar.
Dikisahkan
bahwa jika Imam Malik dan Abdul Aziz bertanya tentang suatu hal, Ibnu Hurmuz
selalu menjawabnya. Akan tetapi hal yang berbeda jika Ibnu Dinar yang bertanya
justru Ibnu Hurmuz lebih banyak diam dan tak menjawabnya.
Maka
akhirnya Ibnu Dinar datang dan menemui Ibnu Hurmuz.
“wahai
guru, aku ingin bertanya padamu tentang suatu hal yang selama ini ingin
kukatakan.”
“Apakah
itu?” Tanya Ibnu Hurmuz.
“Kenapa
setiap kali Malik dan Abdul Aziz bertanya, guru selalu menjawabnya. Sedangkan jika
kami yang bertanya guru malah diam?”
“Apakah
itu menyakiti hatimu?” Tanya Ibnu Hurmuz.
“Betul
wahai guru,” jawab Ibnu Dinar.
Kemudian
Ibnu Hurmuz menjawab:
“sesungguhnya
aku ini adalah orang yang sudah tua, dan aku takut ke-tua-anku menggerogoti akalku
sebagaimana ia menggerogoti tubuhku, dan sangat mungkin bagiku berbuat
kesalahan”.
“malik
dan Abdul Aziz adalah orang yang pintar dan berilmu, maka jika aku katakan sesuatu
yang benar maka mereka menerimanya, dan jika aku katakana sesuatu yang salah
mereka akan menolak dan tak akan menyampaikannya pada orang lain”.
“Sedangkan
kamu dan teman-temanmu tidaklah seperti mereka. semua yang aku katakan, kamu
terima. Maka aku takut jika aku menjawab dengan jawaban yang salah, engkau terima
dan kemudian menyampaikannya pada orang lain dan itu akan menjadi dosa yang
berlipat bagiku”.
Jawaban
yang sangat indah. Kisah yang sangat inspiratif. Sikap hati-hati dalam menyampaikan ilmu. Apalagi ilmu
syariah. Karena ia bukanlah seperti ilmu yang lainnya. Bahkan ia berhubungan
erat dengan pahala dan dosa.
So, just tell what you believe..
So, just tell what you believe..
Sunday,
2nd march ‘14
@nisaandromeda
Saturday, January 4, 2014
syukur dan kufur
Hari
ini adalah hari ketiga ujian. Diisi dengan materi tauhid. Dari 28 bab materi tauhid semester ini, ada salah satu bab yang
berisi hadits yang begitu menarik buat saya dan mendorong saya untuk
menuliskannya disini. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
Bahwasanya
ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :”sesungguhnya ada tiga orang dari bani
israil : masing-masing mereka itu abrash (berpenyakit kulit), aqra’ (kepalanya botak),
dan a’ma (buta), kemudian Allah ingin menguji mereka, maka Allah mengutus
seorang malaikat.
Datanglah
malaikat itu kepada pemuda pertama, kemudian berkata :
Malaikat
: “apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda
1 : “warna yang bagus, kulit yang bagus, sehingga hilanglah sesuatu yang
menyebabkan orang menjauhiku”
Kemudian
malaikat pun mengusapnya, dan hilanglah darinya penyakitnya, dan diganti dengan
warna dan kulit yang bagus.
Kemudian
malaikat berkata lagi :
Malaikat
: “ harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda
1 : “onta “
Kemudian
diberinya onta betina yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha” ucap
malaikat.
Kemudian
malaikat tadi mendatangi orang yang kedua (aqra’). Kemudian berkata:
Malaikat
: apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda
2 : “rambut yang indah, sehingga hilanglah rasa jijik orang terhadapku”.
Kemudian
malaikat pun mengusapnya dan hilanglah botak itu darinya dan digantinya dengan
rambut yang indah.
Kemudian
malaikat bertanya lagi :
Malaikat
:”harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda 2 : “sapi”.
Kemudian diberinya sapi yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha”,
ucap malaikat.
Kemudian
malaikat tadi mendatangi orang yang ketiga (a’ma). Kemudian berkata :
Malaikat
:”apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda
3 : “aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa kembali
melihat”.
Kemudian malaikat mengusapnya dan Allah mengembalikan penglihatannya.
Malaikat
:”apa harta yang paling kamu senangi?”
Pemuda
3 : “domba”. Kemudian diberinya domba betina yang tengah hamil.
Kemudian
masing-masing dari ketiganya menghasilkan kumpulan onta, kumpulan sapi dan kumpulan
domba.
Beberapa
waktu kemudian, datanglah kembali malaikat itu dengan mewujud sebagai manusia.
Kemudian berkata :
Malaikat
:”aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak ada
harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah memberimu warna kulit
yang indah, aku meminta padamu seekor ba’ir (sejenis onta tapi bukan jenis onta
yang terbaik, namun hanya onta yang sering dipakai untuk bepergian) yang
dengannya aku bisa meneruskan perjalananku”.
Pemuda
1 : “alhuquuqu katsiroh, harta yang kumiliki sekarang ini berkenaan dengan
banyak hak, bukan hanya hakmu saja.
Malaikat
:”sepertinya aku mengenalmu. Bukankah engkau dulu yang punya penyakit kulit
sehingga orang-orang menjauhimu, dan dulu engkau miskin kemudian Allah
memberimu harta?”.
Pemuda
1 :”sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari orang tuaku.”
Kemudian
malaikat berkata :
Malaikat:
“jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.
Kemudian
malaikat mendatangi pemuda yang kedua. Kemudian berkata seperti yang dikatakan
pada pemuda pertama. Dan dia pun menolaknya seperti apa yang dilakukan pemuda
pertama.
Malaikat
:” jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.
Kemudian
malaikat tadi mendatangi pemuda yang ketiga. Dan berkata:
Malaikat
:” aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak
ada harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah mengembalikan
penglihatanmu, aku meminta padamu seekor domba yang dengannya aku bisa
meneruskan perjalananku”.
Pemuda
3 :”sesungguhnya aku dulu buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku;
maka ambillah apa yang kamu sukai dan kamu inginkan. Demi Allah, sesungguhnya
aku tak pernah bersusah payah dengan harta yang engkau ambil ini untuk engkau
pakai di jalan Allah.
Malaikat:
“ambillah kembali hartamu, dan jagalah hartamu, sesungguhnya aku hanya diutus
untuk mengujimu. Sungguh Allah telah ridho terhadapmu, dan murka terhadap kedua
temanmu”.
(HR.Bukhari & Muslim)
Begitu
banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tadi.
Fa
biayyi aalaa’i robbikuma tukadzdzibaan..maka nikmat Tuhan yang manakah yang
engkau dustakan.
Sering
kita lalai terhadap Allah, dan lupa bahwa segala harta yang ada adalah titipan dariNya. Dialah yang telah memberi segalanya. Sungguh
orang-orang disekeliling kita hanyalah perantara. Dan Dialah sebaik-baik
pemberi.
Ya
Rabb, jauhkanlah kami dari sifat kufur. Kumpulkanlah kami beserta hamba-hambaMu
yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan.
wallahu a'lam bishshawab
(ternyata menuliskannya dengan bahasa indonesia jauh lebih panjang, padahal hadits aslinya gak sepanjang ini).
(ternyata menuliskannya dengan bahasa indonesia jauh lebih panjang, padahal hadits aslinya gak sepanjang ini).
@nisaandromeda
4
januari 2014 - 16:14pm
Subscribe to:
Posts (Atom)

.jpg)


