fiqh

Sunday, March 2, 2014

Belajar dari Ibnu Hurmuz

Beliau adalah guru dari Imam Malik (pendiri madzhab Maliki). Beliau adalah orang yang sangat tawadhu dan hati-hati dalam menyampaikan ilmu.

Dalam kitab Jami’ Bayan al Ilmi wa Fadhlih yang ditulis oleh Ibnu Abdil Baar dikisahkan: bahwasanya dulu ketika Imam Malik ber-guru pada Ibnu Hurmuz dia selalu datang bersama temannya Abdul Aziz bin Salamah. Dan selain mereka juga ada orang lain yang ikut datang menimba ilmu kepada Ibnu Hurmuz. Dia adalah Muhammad bin Ibrahim bin Dinar.

Dikisahkan bahwa jika Imam Malik dan Abdul Aziz bertanya tentang suatu hal, Ibnu Hurmuz selalu menjawabnya. Akan tetapi hal yang berbeda jika Ibnu Dinar yang bertanya justru Ibnu Hurmuz lebih banyak diam dan tak menjawabnya.

Maka akhirnya Ibnu Dinar datang dan menemui Ibnu Hurmuz.
“wahai guru, aku ingin bertanya padamu tentang suatu hal yang selama ini ingin kukatakan.”

“Apakah itu?” Tanya Ibnu Hurmuz.

“Kenapa setiap kali Malik dan Abdul Aziz bertanya, guru selalu menjawabnya. Sedangkan jika kami yang bertanya guru malah diam?”

“Apakah itu menyakiti hatimu?” Tanya Ibnu Hurmuz.

“Betul wahai guru,” jawab Ibnu Dinar.

Kemudian Ibnu Hurmuz menjawab:
“sesungguhnya aku ini adalah orang yang sudah tua, dan aku takut ke-tua-anku menggerogoti akalku sebagaimana ia menggerogoti tubuhku, dan sangat mungkin bagiku berbuat kesalahan”.

“malik dan Abdul Aziz adalah orang yang pintar dan berilmu, maka jika aku katakan sesuatu yang benar maka mereka menerimanya, dan jika aku katakana sesuatu yang salah mereka akan menolak dan tak akan menyampaikannya pada orang lain”.

“Sedangkan kamu dan teman-temanmu tidaklah seperti mereka. semua yang aku katakan, kamu terima. Maka aku takut jika aku menjawab dengan jawaban yang salah, engkau terima dan kemudian menyampaikannya pada orang lain dan itu akan menjadi dosa yang berlipat bagiku”.

Jawaban yang sangat indah. Kisah yang sangat inspiratif. Sikap hati-hati dalam menyampaikan ilmu. Apalagi ilmu syariah. Karena ia bukanlah seperti ilmu yang lainnya. Bahkan ia berhubungan erat dengan pahala dan dosa.

So, just tell what you believe..

Sunday, 2nd march ‘14
@nisaandromeda

Saturday, January 4, 2014

syukur dan kufur

Hari ini adalah hari ketiga ujian. Diisi dengan materi tauhid. Dari 28 bab materi tauhid semester ini, ada salah satu bab yang berisi hadits yang begitu menarik buat saya dan mendorong saya untuk menuliskannya disini. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :”sesungguhnya ada tiga orang dari bani israil : masing-masing mereka itu abrash (berpenyakit kulit), aqra’ (kepalanya botak), dan a’ma (buta), kemudian Allah ingin menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat.

Datanglah malaikat itu kepada pemuda pertama, kemudian berkata :

Malaikat : “apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda 1 : “warna yang bagus, kulit yang bagus, sehingga hilanglah sesuatu yang menyebabkan orang menjauhiku”

Kemudian malaikat pun mengusapnya, dan hilanglah darinya penyakitnya, dan diganti dengan warna dan kulit yang bagus.

Kemudian malaikat berkata lagi :
Malaikat : “ harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda 1 : “onta “
Kemudian diberinya onta betina yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha” ucap malaikat.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang kedua (aqra’). Kemudian berkata:
Malaikat : apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda 2 : “rambut yang indah, sehingga hilanglah rasa jijik orang terhadapku”.

Kemudian malaikat pun mengusapnya dan hilanglah botak itu darinya dan digantinya dengan rambut yang indah.

Kemudian malaikat bertanya lagi :
Malaikat :”harta apakah yang paling kamu senangi?”
Pemuda 2 : “sapi”. 
Kemudian diberinya sapi yang tengah hamil. “barakallahu laka fiiha”, ucap malaikat.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang ketiga (a’ma). Kemudian berkata :
Malaikat :”apakah sesuatu yang paling kamu senangi?”
Pemuda 3 : “aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa kembali melihat”. 

Kemudian malaikat mengusapnya dan Allah mengembalikan penglihatannya.
Malaikat :”apa harta yang paling kamu senangi?”
Pemuda 3 : “domba”. Kemudian diberinya domba betina yang tengah hamil.

Kemudian masing-masing dari ketiganya menghasilkan kumpulan onta, kumpulan sapi dan kumpulan domba.

Beberapa waktu kemudian, datanglah kembali malaikat itu dengan mewujud sebagai manusia. Kemudian berkata :

Malaikat :”aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak ada harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah memberimu warna kulit yang indah, aku meminta padamu seekor ba’ir (sejenis onta tapi bukan jenis onta yang terbaik, namun hanya onta yang sering dipakai untuk bepergian) yang dengannya aku bisa meneruskan perjalananku”.

Pemuda 1 : “alhuquuqu katsiroh, harta yang kumiliki sekarang ini berkenaan dengan banyak hak, bukan hanya hakmu saja.

Malaikat :”sepertinya aku mengenalmu. Bukankah engkau dulu yang punya penyakit kulit sehingga orang-orang menjauhimu, dan dulu engkau miskin kemudian Allah memberimu harta?”.

Pemuda 1 :”sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari orang tuaku.”

Kemudian malaikat berkata :
Malaikat: “jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.

Kemudian malaikat mendatangi pemuda yang kedua. Kemudian berkata seperti yang dikatakan pada pemuda pertama. Dan dia pun menolaknya seperti apa yang dilakukan pemuda pertama.

Malaikat :” jika engkau berbohong maka Allah akan mengembalikanmu ke kedaanmu dulu”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi pemuda yang ketiga. Dan berkata:

Malaikat :” aku adalah seorang lelaki miskin yang sedang dalam perjalanan, maka tidak ada harapanku selain Allah dan engkau. Demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu, aku meminta padamu seekor domba yang dengannya aku bisa meneruskan perjalananku”.

Pemuda 3 :”sesungguhnya aku dulu buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku; maka ambillah apa yang kamu sukai dan kamu inginkan. Demi Allah, sesungguhnya aku tak pernah bersusah payah dengan harta yang engkau ambil ini untuk engkau pakai di jalan Allah.

Malaikat: “ambillah kembali hartamu, dan jagalah hartamu, sesungguhnya aku hanya diutus untuk mengujimu. Sungguh Allah telah ridho terhadapmu, dan murka terhadap kedua temanmu”.

(HR.Bukhari & Muslim)

Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tadi.
Fa biayyi aalaa’i robbikuma tukadzdzibaan..maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan.
Sering kita lalai terhadap Allah, dan lupa bahwa segala harta yang ada adalah titipan dariNya. Dialah yang telah memberi segalanya. Sungguh orang-orang disekeliling kita hanyalah perantara. Dan Dialah sebaik-baik pemberi.

Ya Rabb, jauhkanlah kami dari sifat kufur. Kumpulkanlah kami beserta hamba-hambaMu yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan.

wallahu a'lam bishshawab

(ternyata menuliskannya dengan bahasa indonesia jauh lebih panjang, padahal hadits aslinya gak sepanjang ini).

@nisaandromeda
4 januari 2014 - 16:14pm



Monday, December 23, 2013

AADM (Ada Apa Dengan Mengantre)...

Sepertinya istilah “mengantre” sudah sangat akrab di telinga kita. Terutama daerah Jakarta yang semuanya seakan tak afdhol kalau tak “antre”. Dimana-mana kita lihat tempat-tempat penuh dengan antrean manusia.

Mulai dari beli sayur di pedagang keliling sampai menunggu bayar belanjaan di kasir mall.
Mulai dari antri bikin ktp di kelurahan sampai bikin rekening di bank.

Hal seperti itu sudah menjadi santapan lezat sehari-hari. Tapi hal yang kadang terlupakan adalah bahwa dalam “mengantre” itu terkandung pelajaran yang sangat berharga.

Kemarin saya mendapat inbox dari teman tentang pelajaran dibalik “mengantre” . Bermula dari kekecewaan saya ketika memasuki kantin kampus. Ya, kantin yang merupakan tujuan favorit mahasiswa kampus kami kala bel istirahat terdengar di seantero kelas. 

Bagaimana tidak? Banyak dari kami yang bela-belain gak sarapan pagi hanya karena tak mau ketinggalan materi jam pertama. Apalagi jika jam pertama adalah fiqih, dimana itu adalah “ikon” jurusan. Satu minggu 5 jam, yang kebanyakan ditempatkan di jam pertama. Kalaupun terpaksa telat, tak mau tuk melewatkannya secara full. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku julluhu” (sesuatu yang tak bisa kita dapatkan semua, maka tak kita tinggalkan semua). Begitu kaidah fiqih bicara.

Oke kembali ke “antre” tadi.

Sampai di depan kantin, tampak dari luar sudah banyak orang memenuhi kantin. Seperti biasa langung ku masuk antrean. Sembari menunggu giliran, beberapa kali kulirik jam, waktu sudah lewat 10 menit. Oh perut, sabar ya. Sambil mengobrol dengan teman dibelakang, tiba-tiba kulihat segerombol orang menerobos masuk kedepan. Kemudian memanggil mba pelayan. Mungkin merasa suaranya tak didengar maka ia memanggil setengah berteriak supaya dilayani. (Sama sekali tidak bermaksud ghibah, hanya sebagai reminder aja).

Kemudian datang beberapa orang lagi dengan tingkah yang sama. Mungkin, seakan di dunia ini hanya merekalah penghuninya. Maklum, kalo lagi laper terkadang gampang emosi.
gak bisa dibiarin nih”, ucapku pada temanku. Ku tegur salah satu dari mereka untuk masuk ke antrean. Tak dihiraukan sama sekali. 

Kalau dilihat sih sepertinya anak-anak baru. Ya maklumlah mungkin mereka terbiasa dirumah ketika makan langsung ambil tak pernah ada istilah mengantre. Jadi belum terbiasa dengan budaya seperti ini. But, come on, kita disini sama. Sama-sama laper. Sama-sama pengen cepet biar gak telat. Si temanku masih betah dalam antrean yang mendadak semrawut itu. Dan aku? Kuputuskan tuk keluar dan menahan semua. Menahan emosi, nahan laper. Oh dunia kala itu sungguh terasa bikin aku “nyesek”.

Aku berjalan menuju kursi dimana salah satu temanku duduk. Langsung ku mengajaknya keluar. Heran dengan sikapku, langsung kujelaskan apa yang barusan terjadi. Kulihat waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi. Kuurungkan niatku tuk makan. Dan kami pun kembali ke kelas dengan perut kosong.

Usai kuliah. Kubergegas menuju kosan. Saat kuhidupkan laptop, cek inbox ternyata ada pesan masuk. Temanku pengirimnya. Isinya sangat cocok dengan apa yang kualami barusan. Tentang arti penting dari sebuah “mengantre”. Yang terkadang sering kita lupa.

Saya tak tau pasti sumbernya,  setelah saya gugling ternyata asal tulisan itu adalah dari Australia sana. Yang pasti isi dari tulisan itu adalah kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa dirinya tak cemas jika anak didiknya tak pandai matematika. Namun justru ia sangat cemas ketika mereka tak pandai mengantre.

Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan sang guru menjawab :” cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Namun untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu waktu bertahun-tahun”.

Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre. Disini saya hanya tuliskan beberapa poin yang saya anggap poin amat penting.

Pertama adalah seseorang akan belajar manajemen waktu, jika ia tak mau masuk dalam antrian panjang, maka ia harus datang lebih awal (tapi tidak dengan keluar kelas sebelum bel istirahat ya, J ).

Kedua, seseorang belajar untuk bersabar. Karena dalam mengantre sikap sabarlah yang berperan utama. Terutama jika ia berada di antrean paling belakang.

Ketiga, seseorang belajar menghormati hak orang lain. Bahwa yang datang dulu dialah yang lebih berhak. Ini yang perlu digaris bawahi.

Keempat, seseorang belajar kreatif. Memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre).

Kelima, seseorang belajar tabah dalam proses mencapai tujuannya.

Keenam, seseorang belajar hukum sebab akibat. Seperti poin ketiga.

Ketujuh, seseorang belajar keteraturan dalam hidup.

Begitu banyak nilai-nilai moral yang dapat kita ambil dari sebuah aktifitas “mengantre”. Indah nan damai sekali ketika semua saling menyadari akan hal itu. Sederhananya, “bebek aja ngantri, masa kita enggak”, perumpamaan itulah yang sering dipakai masyarakat kita. ^_^

Semoga bermanfaat. @nisaandromeda



Monday, December 16, 2013

Guru, Orang Tua, Anak = Tak terpisahkan

usai mengajar tadi sore, salah satu wali murid menghampiri saya,

“kak do’a-do’a apa aja yang buat ujian rabu besok, bisa minta catatin gak, biar farel bisa belajar dirumah?” tanyanya.

“owh, bentar saya copyin”, jawabku.

“tadi farel bisa gak kak?”, tanyanya lagi.

“bisa kok bu, lancar”, jawabku tersenyum.

Ya, dia adalah ibu dari salah satu murid saya, farel. Yang masih duduk dikelas 1 SD, tapi bacaan ngajinya sudah melebihi teman-teman yang kelas 3. bagi saya itu adalah hal yang membahagiakan. ketika ada orang tua yang memperhatikan anaknya terutama belajarnya. Karena banyak dari wali murid yang acuh tak acuh. Tak pernah menanyakan gimana anaknya, perkembangan belajarnya. Sehingga si anak pun sering merasa susah ketika suruh baca materi yang kemarin disampaikan karena dirumah tak pernah diulang. 

berbeda dengan orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya, maka dia akan menanyakan ada PR kah? Gimana tadi sekolahnya? Bisa apa gak? Jika ada yang susah maka dia mengajarinya, jika tau waktunya ujian dia menyuruh anaknya belajar. Ketika anaknya malas berangkat, orang tua mengingatkannya. Dan begitulah seyogyanya.

Karena suksesnya seorang anak tidak mutlak dari pihak guru. Tapi orang tua lah yang lebih besar perannya. Guru hanya memfasilitasi. Menyampaikan ilmu. Selebihnya dirumah anak lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Maka sangat disayangkan ketika ada seorang anak yang gagal ujian atau nilainya jelek kemudian si orang tua justru menyalahkan gurunya.

Harus ada kerja sama antara orang tua dan guru. Dan itulah yang selalu disampaikan ketika ada pertemuan wali murid.

Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang menjadi wasilah kesuksesan anak kita. amin.

Friday, December 13, 2013

Ibnu Umar, Pecinta Rasul


Siapa yang tak kenal Ibnu Umar. Beliau adalah Abdullah bin Umar, anak dari amirul mukminin, Umar bin Khattab. Namun lebih dikenal dengan nama Ibnu Umar. Karena pada waktu itu ada banyak nama Abdullah, seperti Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Mas'ud, dll.

Beliau adalah perawi hadits dan juga sahabat yang dikenal sangat sering bermulazamah dengan Rasulullah.
Tak ada sahabat Rasul yang tidak cinta kepada Rasul. Mereka menunjukkan kecintaannya dengan menjalankan sunnah-sunnahnya. Begitu pun Ibnu Umar. Bahkan saking cintanya, pada Rasul, dia tidak hanya mengikuti perintah dan sunnah-sunnahnya, tapi juga sampai hal terkecil yang bahkan sahabat lain tidak melakukannya.

Pernah suatu hari Ibnu Umar melihat Rasulullah berjalan di suatu tempat, dan ketika melewati sebuah pohon, Rasul berjalan memutari pohon tersebut. Besoknya pun begitu.

Dan ketika Rasulullah telah wafat, suatu hari Ibnu Umar berjalan dengan sahabat yang lain, dan melewati tempat dimana dulu Rasul selalu memutari pohon disitu. ketika itu, pohon itu telah ditebang dan sudah tak ada bekasnya. Namun beliau masih sangat ingat tempatnya.

Ibnu Umar tiba-tiba berjalan memutari tempat dimana pohon itu dulu tumbuh.
Para sahabat bertanya,"wahai ibnu umar, apa yang kau lakukan..?".
"dulu disini ada sebuah pohon, dan tiap Rasul lewat ditempat ini, beliau berjalan memutari pohon itu", jawab Ibnu Umar.

bayangkan, saking cintanya kepada Rasul bahkan hal-hal yang sekecil itu  pun diikuti. Padahal itu kan bukan sunnah. Namun Ibnu Umar pun mengikutinya, sebagai bentuk cintanya pada Rasul.

والآن، أين نحن منهم؟

sudahkah kita mengikuti sunnah-sunnahnya?
bahkan, hal-hal yang wajib pun sering kita tinggalkan. Pantaskah kita disebut Umat yang mencintainya?
wallahu a'lam bishshawab.. ^_^

Saturday, November 30, 2013

Pesona Fisik vs Pesona Jiwa

(Belajar dari kekurangan eps.1)

Pesona Fisik vs Pesona Jiwa

﴿لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم﴾ التين:4
“sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At tin:4).

Ayat diatas secara jelas mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Allah memberi kita dua mata yang dengannya kita bisa melihat. Allah beri kita dua tangan yang dengannya kita bisa bisa menulis. Dua kaki yang dengannya kita bisa berjalan shalat berjamaah di masjid, bisa menghadiri majlis ilmu, juga dua telinga yang dengannya kita bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al qur’an dari Syeikh Al Ghamidi (saya tuliskan satu syeikh, karena beliau adalah qori favorit saya, he).

Sungguh itu merupakan nikmat yang tiada terkira. Bayangkan kalau kita tak punya tangan, kaki, atau mata. Dunia akan terasa begitu gelap, tak mungkin bisa kita menikmati pemandangan-pemandangan indah yang Allah ciptakan.

Namun tidak sedikit dari manusia yang kurang bersyukur bahkan tak puas dengan apa yang diberikan Allah pada dirinya. Karena dia punya hidung yang tak sepanjang hidung-hidung orang barat, dia operasi plastik untuk di mancungin, karena matanya tak seindah mata-mata orang timur sana maka ia rubah mata itu.
Bahkan ia rela merogoh kantong lebih dalam hanya untuk memperindah bagian tubuh yang padahal dengan bentuk yang Allah ciptakan, ia tetap bisa bernafas, ia tetap bisa melihat.

Apakah kecantikan dan ketampanan itu menunjukkan tingkat iman seseorang? Yang lebih cantik berarti lebih beriman, yang lebih tampan itu lebih beriman? Tidak.
Bahkan Rasul sendiri telah bersabda:

 «إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قلوبكم وأعمالكم» أخرجه مسلم 2564
“sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kamu, akan tetapi Allah melihat hati dan amal-amalan mu” (Shahih Muslim 2564).

Juga,  ﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات: 13]
 “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa”  (Al Hujurat 10). (bukan yang paling tampan atau cantik kan?)

Kecantikan atau ketampanan fisik tidaklah bersifat kekal, namun hanyalah bersifat sementara dan berjangka. Mungkin saat ini kita melihat artis Hollywood seperti tom cruise, brad pitt terlihat sangat tampan, tapi setelah 10 tahun lagi apakah predikat itu tetap sama? Ketika dia sudah kakek-kakek, masih terlihat tampankah dia?

Keindahan fisik akan memudar seiring bertambahnya usia. Untuk yang Allah beri fisik tak seindah artis-artis itu, okelah kita sebut itu sebagai kekurangan. Tapi jangan lantas kita kecewa dengan apa yang diberiNYA dan kemudian berusaha merubahnya.

Lalu?

Bersyukur adalah solusi nomer wahid. Kata Allah “la in syakartum, la azidannakum, wa la in kafartum, inna ‘adzabi lasyadiid”  

Yang kedua adalah berusaha menambal kekurangan dengan potensi lain yang dimiliki.
Inilah yang sering terlupakan oleh sebagian orang. Ia sering lupa akan kemampuan diri. Ia tidak menyadari bahwa dirinya itu punya potensi. Gali terus potensi yang ada dengan terus BELAJAR.

Belajar. Belajar adalah proses manusia mencari sebuah kebenaran, mencari sebuah jawaban. Dan dengannya otomatis meningkatkah tingkat intelektualitasnya.
Layaknya pisau yang terus diasah dia akan semakin tajam. Begitupun otak. Semakin sering kita ajak dia belajar, berpikir, berdiskusi maka semakin tajam pula ia.

Keilmuan seseorang itulah yang disebut pesona jiwa (inner beauty/handsome). Seseorang dengan ilmu dan wawasan yang luas akan lebih menarik sekitarnya dibanding pesona fisik. Dan pesona jiwa itulah yang justru bersifat tahan lama berbanding terbalik dengan pesona fisik. Dan semakin tinggi ilmu seseorang, semakin matang pula tingkat berpikir dan kepribadiannya dan akhlaknya. Semakin bertambahlah pesona jiwanya. Sedangkan semakin bertambah umur seseorang semakin pudarlah pesona fisiknya.

Sampai disini, manakah yang akan kita pilih? Pesona fisik atau pesona jiwa kah?


it's just opinion.. ^_^


(tulisan ini terinspirasi dari apa yang disampaikan salah satu pengajar saya di Rumah Fiqih, usai membahas tentang Imam Ahmad beberapa pekan lalu)



Monday, November 11, 2013

Karena Adil Tak Selalu Sama


Dewasa ini, sudah menjadi hal yang biasa ketika seorang wanita bekerja, dan beraktifitas layaknya pria. Bekerja di kantor, di perusahaan ataupun profesi lainnya.

Dan dengan hal yang dipandang biasa itulah, muncul statement “seorang wanita juga punya hak seperti pria, namun kenapa seolah islam membedakannya, malah seolah kedudukan wanita itu selalu dibawah pria, sebagai contoh dalam hal warisan”.

Bagaimana kita menjawab statement tersebut?

Firman Allah yang terdapat dalam surah An nisa 176

.....فاللذكر مثل حظ الأنثيين...
“….maka bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang perempuan…”

Ya, ayat tersebut menjadi hujjah mereka.
Namun,

أأنتم أعلم أم الله........
“….kamukah yang lebih tau, atau Allah?....” (an nisa 140)

Ketika Allah menurunkan suatu ayat, pasti terdapat sisi kebaikan yang terkandung didalamnya dan terkadang kitalah yang belum bisa memahami.  Dan ayat tersebut, mengapa Allah menjadikan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan, ada banyak faktor, diantaranya :

1.       Seorang laki-laki ketika dia menikah, dia harus memberi mahar pada istri.
2.       Ketika dia telah berkeluarga, dia berkewajiban untuk menafkahi keluarga.

Bukankah itu sudah menjadi bukti bahwa islam tidaklah menjadikan kedudukan wanita dibawah pria. Justru sebaliknya, Islam begitu memuliakan wanita,memuliakannya dengan diberikannya mahar ketika menikah, menjadikannya “ratu” dalam rumah tangga, dia tak harus bersusah payah mencari uang karena suaminya lah yang berkewajiban untuk itu.

Adilkah kita, ketika memberi uang kepada adik kita misalnya, yang masih TK dengan nominal yang sama dengan adik kita yang duduk dibangku SMP? Tentu tidak, karena tentunya kebutuhannya pun berbeda, anak SMP mempunyai kebutuhan yang jauh lebih banyak dibanding TK, dan harus kita lihat sisi maslahah pada keduanya.

Hal yang harus selalu kita ingat, bahwa yang namanya ADIL itu TAK harus SAMA. Tapi adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempat dan kapasitasnya.

Sungguh Allah maha Adil, tiada yang mampu menandingi keadilanNYA

Wallahu a’lam bishshawab..

.